Standard Chartered Bank Indonesia - - Foto: Antara/ Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Standard Chartered Bank Indonesia - - Foto: Antara/ Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Pelaku Pasar Yakin Virus Korona Tidak Berdampak Jangka Panjang

Ekonomi ihsg Virus Korona pasar saham
Antara • 11 Februari 2020 16:42
Jakarta: Pelaku pasar di Indonesia meyakini virus korona tidak akan berdampak jangka panjang bagi perekonomian. Pasalnya, wabah tersebut tidak berkaitan langsung dengan pasar saham.

"Kalau berkaca dua hal kejadian epidemi sebelumnya (SARS dan MERS) terlihat tidak terlalu ada hubungan antara pasar saham dengan wabah," kata Head of Investment Spesialist PT Manulife Aset Management Indonesia Freddy Tedja dalam Economic Outlook Bank Standard Chartered Indonesia di Jakarta, Selasa, 11 Februari 2020.
 
Freddy menuturkan saat wabah infeksi saluran pernafasan akut atau SARS mulai merebak di Tiongkok pada April 2003, indeks saham Asia Pasifik pun sempat menurun 5,5 persen.
 
Tiga bulan setelah itu, indeks saham Asia Pasifik, kata dia, kembali naik 16 persen dan enam bulan berikutnya naik kembali 35 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Produk Domestik Bruto (GDP) China juga tidak terlalu berdampak saat itu," katanya.
 
Begitu pula saat wabah pernafasan Timur Tengah atau virus corona MERS, lanjut dia, sejak merebak di Arab Saudi pada April 2014 hingga masa puncak, indeks saham Asia Pasifik naik 1,3 persen, tiga bulan kemudian naik 7,4 persen dan selama enam bulan naik 2,4 persen.
 
"Arab Saudi GDP sempat turun tapi satu tahun kemudian pulih kembali," sambung dia.
 
Menurut dia, virus korona hanya akan berdampak dalam jangka pendek berupa persepsi dari para investor berupa sentimen. Meski virus korona belum terdeteksi di Indonesia, namun pasar saham sempat turun tiga persen.
 
Penurunan itu, kata dia, karena faktor ketakutan sesaat mengingat Indonesia banyak mengekspor ke Tiongkok salah satunya batu bara.

 
"Sekarang di Tiongkok banyak perusahaan tutup artinya kebutuhan batu bara turun. Dagangan tidak laku, itu jelek buat perusahaan batu bara ujungnya indeks harga saham gabungan (IHSG) turun," katanya.
 
Contoh lain, lanjut dia, ketika pemerintah memberikan insentif pajak, itu akan menarik investor asing masuk ke Indonesia. "Kalau pajak turun, profit bisa naik, harga saham juga naik. Belum kejadian, pasar sudah naik," katanya.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif