Tembus Rp14 Ribu/USD, Analis: Dana Asing Masih akan Keluar
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Jakarta: Mata uang rupiah tembus ke posisi Rp14 ribu per USD sehingga bisa menjadi hawa negatif bagi pasar modal Indonesia. Disinyalir, akan banyak dana investor asing ‎yang keluar dari bursa Indonesia.

"Bukan hanya rupiah, data ekonomi dan pertumbuhan domestik bruto (PDB) yang di bawah target, itu yang banyak membuat indeks hadapi tekanan, asing saya perkirakan masih akan lakukan outflow," ucap Head of Research Ekuator Swarna Sekuritas David Sutyanto kepada Medcom.id, Senin, 7 Mei 2018.

Sebelum banyak yang keluar dari Indonesia, David mengatakan pemerintah harus memberi kepastian bagi investor, seperti memberikan pelonggaran kebijakan fiskal atau mengetatkan kebijakan moneter.

"Jadi bisa kedua itu, pelonggaran kebijakan fiskal atau pengetatan moneter. Keduanya bisa dengan cara meningkatkan suku bunga, atau melakukan opsi-opsi yang lain. Itu yang harus dilakukan oleh pemerintah, sebelum mereka banyak yang kabur dari Indonesia," tegas David.

Jika Bank Indonesia (BI) maupun pemerintah turun langsung dengan menggunakan cadangan devisa terus menerus maka akan terus menyusut. "Pada akhirnya power cadangan devisa kan kurang, karena semakin besar cadangan devisa, semakin besar pula power-nya untuk hadapi USD," tutur David.

Pada kesempatan yang sama, ‎Analis PT Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada menambahkan investor sudah lama khawatir dengan keadaan rupiah yang kian terombang-ambing. Apalagi rupiah telah menyentuh Rp14 ribu per USD, maka membuka peluang bisa terus mengalami pelemahan.

"Investor kan panik, otomatis rupiah tembus Rp14 ribu per USD, maka terbuka peluang untuk lagi melemah di atas Rp14 ribu per USD. Indeks yang turun tajam di saat rupiah turun, karena pasar belum lihat langkah nyata pemerintah dalam meredam hal itu, makanya pasar sering panik," jelas Reza.

Lanjut Reza, bisa dibayangkan pada saat investor panik, maka dana asing banyak yang keluar dari bursa Indonesia. Dia mencatat, sejak awal tahun hingga minggu pertama di Mei 2018 telah terjadi capital outflow sebesar Rp35 triliun.

Untuk itu, harus ada langkah strategis dari pemerintah maupun bank sentral.‎ Tujuannya, agar mereka tidak kabur dari pasar saham, dan akhirnya kondisi pasar modal Indonesia tetap stabil.

"Apa sih yang membuat mereka yakin dan nyaman, sepanjang belum ada tanda-tanda tersebut, maka pasar masih khawatir akan mereka keluar," tutup Reza.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id