Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.

Investasi Saham Terjerat Ringkihnya Ekonomi Global

Ekonomi saham bank indonesia ekonomi dunia
Husen Miftahudin • 11 Oktober 2019 15:16
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut aliran investasi untuk portofolio saham selama satu pekan terakhir mengalami kemerosotan. Ini sebagai imbas dari ringkihnya kondisi ekonomi global saat ini, terutama dari berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
 
"Saham itu memang lebih volatil, bergerak naik turun, keluar masuk ke Indonesia dan terutama pada masa-masa ini banyak kondisi-kondisi global yang berpengaruh terhadap besaran aliran modal asing masuk ke saham," ujar Perry di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 11 Oktober 2019.
 
Secara week to date (wtd) hingga 10 Oktober 2019, aliran modal asing ke saham mengalami outflow sebanyak Rp0,36 triliun. Untungnya, portofolio Surat Berharga Negara (SBN) menopang aliran investasi yang masuk ke Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau (aliran investasi) ke SBN itu masih cukup positif. Week to date seminggu sampai dengan 10 Oktober itu SBN-nya masuk Rp3,04 triliun, sementara saham keluar Rp0,36 triliun sehingga nett-nya week to date sampai dengan 10 Oktober itu terjadi inflow Rp2,54 triliun," jelas Perry.
 
Secara keseluruhan, aliran investasi portofolio hingga 10 Oktober 2019 mengalami inflow sebanyak Rp195,5 triliun year to date (ytd). Terdiri dari inflow ke SBN sebesar Rp140,6 triliun dan inflow ke saham sebanyak Rp52,9 triliun.
 
Perry mengklaim kondisi tersebut membuat Indonesia masih menjadi negara tujuan investor untuk menanamkan modalnya. Investor masih menaruh kepercayaan besar terhadap perekonomian Indonesia dan imbal hasil investasi di dalam negeri.
 
"Khususnya yang terkait dengan SBN yang masih cukup kuat dan itu terbukti dari berlanjutnya arus investasi portofolio ke SBN," urainya.
 
Medcom.id mencatat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir ini mengalami pelemahan. Padahal, di akhir pekan sebelumnya (Jumat, 4 Oktober 2019) IHSG terapresiasi, ditutup menguat 22,72 poin atau setara 0,376 persen ke posisi 6.061. Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat rata-rata nilai transaksi saham di perdagangan BEI meningkat 3,09 persen menjadi Rp7,991 triliun selama sepekan (30 September-4 Oktober 2019).
 
Sayangnya, laju penguatan IHSG tak berlanjut. Tercatat pada penutupan perdagangan di Senin, 7 Oktober 2019, IHSG minus 60,67 poin menjadi 6.000. Sektor konsumer jatuh paling dalam di hari itu.
 
Kondisi pelemahan itu terus berlanjut hingga penutupan perdagangan Kamis, 10 Oktober 2019. IHSG tercatat melempem ke posisi 6.023 atau melemah 5,52 poin.
 
Tak sampai di situ, IHSG diramal akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini imbas minimnya sentimen. Investor dinilai masih 'ketar-ketir' akibat kondisi perang dagang AS dan Tiongkok, meski kedua negara Adidaya itu disebutkan akan memulai babak baru konsultasi tinggi di Washington untuk mengatasi perbedaan mereka dalam masalah ekonomi dan perdagangan.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif