Kepala Direktorat Cyber Mabes Polri Brigjen Pol Rachmad Wibowo (kedua dari kiri). (FOTO: Medcom.id/Nia Deviyana)
Kepala Direktorat Cyber Mabes Polri Brigjen Pol Rachmad Wibowo (kedua dari kiri). (FOTO: Medcom.id/Nia Deviyana)

Investor di Indonesia Tak Perlu Takut Serangan Siber

Ekonomi etika siber bei
Nia Deviyana • 24 Januari 2019 14:54
Jakarta: Kerugian pada perusahaan yang disebabkan oleh serangan siber dinilai sangat signifikan. Namun, para investor tak perlu takut untuk melakukan transaksi bisnis di Indonesia karena pemerintah telah melakukan antisipasi.
 
"Pemerintah sudah membentuk Badan Siber dan Sandi Negara, jadi (investor) tidak perlu khawatir karena pemerintah menjamin digital security ini sangat bagus," ujar Kepala Direktorat Cyber Mabes Polri Brigjen Pol Rachmad Wibowo dalam sebuah diskusi di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis, 24 Januari 2019.
 
Rachmad menambahkan ketahanan siber juga telah dilakukan berbagai satuan kerja dengan membentuk direktorat keamanan khusus. Di Polri, kata dia, telah dibentuk Direktorat Penyidikan Tindak Pidana Siber.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tak hanya institusi pemerintah, sektor swasta yang bergerak di bidang keuangan, telekomunikasi, dan transportasi juga telah memiliki sistem keamanan yang baik. BEI juga sudah punya sistem keamanannya sendiri," tambahnya.
 
Kendati tidak pernah mendapat serangan siber yang fatal, Rachmad tidak memungkiri Indonesia masih harus meningkatkan ketahanan siber. Saat ini langkah yang telah dilakukan adalah memberlakukan aturan yang mengharuskan perusahaan memiliki data center.
 
Dengan data center, semua akses fisik yang masuk ke perusahaan dapat dikontrol sepenuhnya, identitas yang masuk ke sistem harus dikonfirmasikan melalui biometrik, serta semua aktivitas harus menggunakan video-login.
 
"Sudah ada peraturan Kemkominfo tentang PSTE (Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik), jadi perusahaan harus punya data center di Indonesia," pungkasnya.
 
Sebuah studi yang dilakukan Frost & Sullivan menyebutkan serangan siber di Indonesia memiliki potensi kerugian ekonomi sebesar USD34,2 miliar (Rp481 triliun) atau sekitar 3,7 persen dari total Pendapatan Domestik Bruto.
 
Studi Asia Pacific Security Capabilities Benchmark Cisco 2018 juga menyebutkan bahwa 66 persen perusahaan harus mengeluarkan USD500 ribu atau lebih untuk mengatasi serangan siber.Sementara, 13 persen responden mengatakan bahwa mereka mengeluarkan USD5 juta atau lebih. Kerugian ini mencakup pendapatan yang hilang, kehilangan pelanggan dan biaya lainnya.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif