NEWSTICKER
Ilustrasi. Foto: dok MI.
Ilustrasi. Foto: dok MI.

Laju IHSG Bakal Terhambat

Ekonomi ihsg
Annisa ayu artanti • 21 Februari 2020 10:16
Jakarta: Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan terakhir pekan ini berpotensi melemah, meskipun faktor global dan domestik sudah berusaha memberikan stimulus pergerakan.
 
Analis Pilarmas Investindo Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan IHSG berpeluang bergerak melemah dan diperdagangkan pada level support-resistance 5.912-5.976.
 
Di Tiongkok, kata Nico, otoritas keuangan memangkas suku bunga pinjamannya di tengah kecemasan akan perlambatan ekonomi akibat dari penyebaran virus korona.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kebijakan pemangkasan suku bunga pinjaman yang dilakukan oleh People's Bank of
China (PBOC) sebagai bauran langkah kebijakan fiskal dan moneter dalam beberapa pekan terakhir bertujuan meredam dampak virus pada ekonomi.
 
"Ini merupakan upaya Tiongkok untuk mendongkrak pertumbuhan ekonominya akibat wabah virus korona yang melanda di Tiongkok yang berdampak jaringan pasokan global dan penurunan kondisi bisnis serta aktivitas pabrikan di Tiongkok," jelas Nico, dalam hasil risetnya, Jumat, 21 Februari 2020.
 
PBOC dalam rilis juga melakukan pemangkasan suku bunganya loan prime rate satu tahun dari sebelumnya 4,15 persen menjadi 4,05 persen, sementara loan prime rate dari sebelumnya 4,8 persen menjadi 4,75 persen.
 
PBOC berusaha untuk menggabungkan upaya biaya pinjaman yang lebih rendah dengan likuiditas yang jauh lebih besar untuk meredam implikasi dari penyebaran virus korona.
 
"Sejauh ini kami melihat bahwa pertemuan politbiro yang dilakukan pada 12 Februari lalu mulai memberikan hasil. Pertemuan tersebut mengisyaratkan bahwa pihak berwenang akan mencoba untuk mengubah kebijakan moneter agar menjadi lebih flexible, dan menunjukkan pelonggaran moneter lebih lanjut harus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
 
Sementara dari Tanah Air, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memutuskan menurunkan suku bunga acuannya. BI 7 Days Repo Rate turun di posisi 4,75 persen dari sebelumnya 5 persen. BI juga menurunkan deposit facility sebesar 25 bps menjadi empat persen dan suku bunga lending facility turun 25 bps jadi 5,5 persen.
 
BI akan terus menerapkan kebijakan moneter yang akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali, stabilitas eksternal yang aman serta langkah pre-emptive untuk menjaga momentum ekonomi domestik di tengah tertahannya ekonomi global sehubungan terjadinya Covid 19 (korona) dan untuk transmisi kebijakan yang akomodatif.
 
Menurut BI dampak dari virus korona akan masuk ke Indonesia melalui tiga jalur yaitu pasar keuangan, sektor riil, dan sektor pemerintah. Dampak dari virus korona itu akan lebih terasa oleh perekonomian Indonesia pada Februari dan Maret atau sepanjang kuartal I-2020.
 
Di sektor pariwisata, dengan skenario penutupan penerbangan dari dan ke Tiongkok selama dua bulan dan penurunan wisatawan mancanegara (wisman) Tiongkok maupun negara lainnya selama enam bulan, Bank Indonesia memperkirakan pengaruhnya terhadap penurunan devisa pariwisata mencapai kurang lebih USD1,3 miliar.
 
Sementara di sektor perdagangan internasional, gangguan logistik dan distribusi dalam proses ekspor dan impor akan berpengaruh mengurangi devisa masing-masing sebesar USD300 juta dan USD700 juta.
 
Sedangkan dari sisi investasi, Bank Indonesia memperhitungkan potensi terjadinya penundaan realisasi investasi khususnya dari Tiongkok sebesar kurang lebih USD400 juta. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan Bank Indonesia merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2020.
 
BI mengatakan bahwa GDP Indonesia diprediksikan akan berada di bawah lima persen atau dalam rentang 4,9 persen sampai lima persen diakhir kuartal I-2020.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif