Pelemahan tersebut terjadi ketika sebagian besar sektor saham berada di zona merah. Sektor teknologi terkoreksi 3 persen, sektor komunikasi menyusul dengan penurunan 1,32 persen, diikuti sektor industri yang melemah 0,96 persen.
Pelemahan juga terjadi pada sektor properti atau real estate sebesar 0,79 persen, barang konsumen non-primer 0,76 persen, keuangan 0,61 persen, utilitas 0,31 persen, dan bahan baku 0,09 persen.
Di tengah tekanan tersebut, tiga sektor masih mencatatkan penguatan. Sektor kesehatan naik 2,44 persen, barang konsumen primer menguat 2,22 persen, dan energi bertambah 0,65 persen.
Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menyebut IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah tajam sebesar 1,95 persen ke level 8.066. Pada periode tersebut, net foreign sell tercatat mencapai Rp1,32 triliun.
Secara teknikal, tim riset memperkirakan indeks berpotensi menguji area support psikologis 8.000. Koreksi pasar disebut dipicu aksi ambil untung investor dan rotasi portofolio menuju aset safe haven, seiring meningkatnya ketidakpastian akibat ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, sektor komoditas seperti emas dan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mulai menarik perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut didukung kenaikan harga global serta kebijakan B50 dari pemerintah.
Bursa Asia Ikut Melemah
Tekanan pasar juga terlihat pada sejumlah indeks saham regional. KOSPI Korea Selatan melemah 7,66 persen ke level 5.551,40, sedangkan Nikkei 225 Jepang turun 4,81 persen menjadi 64.489,06.
Indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,07 persen ke level 24.053,13. Sementara itu, indeks LQ45 Indonesia melemah 0,75 persen menjadi 590,12.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi di pasar saham Indonesia. Namun, data yang tersedia belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh penurunan indeks regional tersebut disebabkan oleh faktor yang sama. (Wisa Irena Br Sitepu)