Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO

Penyebab Rupiah Bergerak Fluktuatif

Ekonomi rupiah bank indonesia kurs rupiah
Nia Deviyana • 20 Januari 2020 13:41
Jakarta: Rupiah bergerak fluktuatif usai perdagangan Senin, 20 Januari 2020. Mengutip data Bloomberg, Senin, 20 Januari 2020, rupiah dibuka menguat ke posisi Rp13.640 per USD dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp13.645 per USD. Namun, tak beberapa lama kemudian bertengger di zona merah.
 
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai sentimen pada ekonomi didukung oleh tanda-tanda yang sedang berlangsung di global.
 
Faktor eksternal, Presiden Donald Trump pada pertengahan Januari ini akan dihadapkan dengan impeachment atau pemakzulan oleh senat yang akan dibawa ke Kongres AS.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sehingga menjadi ketegangan tersendiri di kalangan dalam negeri Pemerintah AS," ujarnya seperti dikutip Medcom.id dari catatan hariannya, Senin, 20 Januari 2020.
 
Selain itu, pasar juga menanti langkah serta sanksi baru yang diumumkan AS kepada Iran terkait pengayaan uranium dan tudingan Teheran sengaja menyerang fasilitas AS di Irak dan jatuhnya pesawat komersial Ukraina yang menewaskan 170 orang.
 
Tak hanya AS, negara lain seperti Inggris, Prancis, dan Jerman juga secara resmi menuduh Iran melanggar perjanjian nuklir yang disepakati pada 2015. Hal ini membuat peluang sanksi-sanksi kembali dikenakan.
 
Beralih dari sana, usai negosiasi perang dagang AS-Tiongkok, pasar menanti kelanjutan negosiasi AS dan Uni Eropa. Sinyal positif juga mengemuka usai adanya pembicaraan yang dilakukan terkait keinginan Komisi Uni Eropa untuk melakukan menegosiasikan sengketa perdagangan terbuka dengan AS.
 
Sementara faktor internal, Bank Indonesia (BI) akan kembali melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF.
 
"Hal ini menandakan kondisi global ini sudah di antisipasi sebelumnya oleh BI, sehingga dengan sigap pemerintah sejauh ini dapat ekstra waspada terhadap mata uang Garuda," imbuhnya.
 
Di sisi lain, pemerintah diminta terus melakukan konsolidasi guna mengantisipasi gejolak politik antara AS dan Iran kembali memanas usai sanksi ekonomi diumumkan.
 
"Caranya dengan memperkuat strategi bauran yang sudah dijalankan, baik di birokrasi maupun keuangan untuk memantik arus modal asing kembali masuk pasar dalam negeri," pungkasnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif