Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Bursa Dirut dari Internal atau Eks Bank Mandiri

Ekonomi bank mandiri
Media Indonesia • 31 Oktober 2019 10:51
Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan bahwa calon pengganti Kartika Wirjoatmodjo sebagai Direktur Utama (Dirut) Bank Mandiri berasal dari internal Bank Mandiri.
 
Namun, sosok internal yang dimaksud bukan berarti sosok yang masih menjabat. Bisa saja merupakan bankir yang pernah berkarier di Bank Mandiri.
 
"Kalau (calon dirut) Bank Mandiri sudah, yang pasti bekas lulusan atau masih orang Bank Mandiri," ujar Erick di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu, 30 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia tidak bersedia menyebutkan lebih lanjut calon-calon yang masuk bursa pencalonan.
 
Sebagai informasi, saat ini banyak bankir eks Mandiri yang menduduki posisi strategis di BUMN lain. Misalnya saja Sunarso, eks Direktur Commercial and Bussines Banking Bank Mandiri yang kini menjabat sebagi Dirut Bank Rakyat Indonesia.
 
Selain itu, Pahala N Mansuri, Direktur Keuangan Pertamina saat ini, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri. Juga ada nama Nixon P Napitupulu yang merupakan Direktur Keuangan di BTN saat ini. Lalu mantan Dirut BTN Maryono yang pernah berkarier di Bank Mandiri sebelum menjadi Dirut Bank Mutiara Tbk.
 
Saat ini posisi Plt Dirut Bank Mandiri dijabat Sulaiman Arif Arianto yang merupakan bankir senior asal Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sulaiman bergabung dan menjabat Wakil Dirut Bank Mandiri sejak Maret 2015.
 
Dengan mengikuti alur pernyataan Erick, nama-nama itu bisa jadi merupakan salah satu calon Dirut Bank Mandiri.
 
Evaluasi Menyeluruh
 
Erick mengatakan posisi pengganti Budi Gunadi di holding pertambangan atau MIND ID belum ditentukan. Lebih lanjut Erick menyebutkan akan melakukan evaluasi secara menyeluruh kepada seluruh direksi BUMN.
 
"Saya sudah minta semua direksi BUMN harus membuat rencana kerja lima tahun yang akan kita review secara profesional. Di situ kita lihat strategi dan model bisnisnya," jelas dia.
 
Setelah evaluasi itu dilakukan, Erick tidak menutup kemungkinan akan adanya perombakan di berbagai perusahaan negara. Namun, perombakkan itu tidak dilakukan secara besar-besaran.
 
"Bisa saja, kalau yang sudah bagus, ya kenapa harus diubah. Tetapi kan ini bagian dari profesionalisme," pungkasnya.
 
Sejumlah pihak telah mendorong Menteri BUMN yang baru untuk melakukan bersih-bersih terhadap BUMN. Apalagi belakangan ini banyak direksi BUMN yang terkena kasus di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan pada periode sebelumnya banyak penunjukan direksi BUMN yang hanya didasarkan pada kedekatan semata.
 
Bhima menegaskan perombakan direksi BUMN menjadi keharusan untuk mengangkat kinerja perusahaan-perusahaan negara.
 
Ke depannya, Erick harus memperketat tata kelola dan rekrutmen pejabat secara profesional. Pemilihan harus dilaksanakan secara transparan sehingga masyarakat bisa menilai dan ikut memberi masukan.
 
"Dengan begitu, politisi maupun relawan yang tidak punya kompetensi, yang hanya akan merusak kinerja BUMN, akan tersingkir," papar Bhima.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif