Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.

Laju Rupiah Terus Melesat, IHSG Keok

Ekonomi ihsg kurs rupiah
Ade Hapsari Lestarini • 17 Januari 2020 09:22
Jakarta: Gerak nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pagi ini dibuka tak sejalan. Rupiah terus melaju, sementara IHSG harus rela terkoreksi.
 
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 17 Januari 2020, rupiah dibuka menguat ke posisi Rp13.634 per USD dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp13.642 per USD.
 
Sementara itu rentang gerak rupiah berada di Rp13.634-Rp13.652 per USD. Adapun rupiah terus bergerak menguat hingga sembilan poin atau setara 0,007 persen ke posisi Rp13.651 per USD.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sedangkan mengutip data Yahoo Finance, rupiah berada di level Rp14.235 per USD. Adapun rupiah melemah ke posisi 60 poin atau setara 0,42 persen.
 
Selain itu mengutip laman RTI, gerak IHSG terpantau merosot 4,263 poin atau setara 0,068 persen ke posisi 6.281. IHSG sempat menyentuh level tertinggi di posisi 6.301 dan level terendah di 6.276.
 
Adapun volume perdagangan saham tercatat sebanyak 538,9 juta lembar senilai Rp424,7 miliar. Sebanyak 128 saham menguat, 122 saham melemah, 112 saham stagnan, dan terjadi 46.061 kali transaksi.
 
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi sebelumnya menilai kebijakan bauran yang diterapkan Bank Indonesia (BI) pasca penandatanganan fase satu kesepakatan dagang AS-Tiongkok berhasil membawa berkah bagi pasar dalam negeri.
 
"Sehingga pasar kembali percaya dengan sendirinya, modal asing kembali masuk cukup deras mendukung penguatan rupiah," ujar Ibrahim pada catatan hariannya yang dikutip Medcom.id, Kamis, 16 Januari 2020.
 
Ibrahim melanjutkan, arus modal yang masuk akan tetap bertahan, karena saat ini kondisi fundamental ekonomi dalam negeri cukup stabil dibandingkan ekonomi negara lainnya.

 
Faktor lain, yang membuat arus modal cukup deras yakni perbedaan besaran suku bunga Indonesia dengan AS yang masih cukup besar. Suku bunga yang ditawarkan Indonesia juga masih lebih atraktif di mata investor bila dibandingkan dengan AS atau negara emerging market lainnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif