Ilustrasi -- FOTO: ANTARA/ERIC IRENG
Ilustrasi -- FOTO: ANTARA/ERIC IRENG

Mau Tahu Investasi yang Tepat Tahun Ini?

Ekonomi investasi keuangan
Husen Miftahudin • 16 Januari 2015 09:26
medcom.id, Jakarta: Berdasarkan survei Citi FinQ yang dilakukan oleh Citigroup Asia Pasific, Indonesia adalah negara yang memiliki pemahaman keuangan tertinggi dibandingkan negara Singapura, Filipina, Australia dan Taiwan. Hal ini dikarenakan, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki optimisme terhadap kondisi keuangan di masa depan.
 
Optimisme ini terlihat dari tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap investasi dan hal terkait. Pada 2014 sendiri, pilihan instrumen investasi yang paling populer pada masyarakat Indonesia adalah dana tunai, diikuti oleh asuransi, properti, dan reksa dana.
 
Namun, investasi apa yang tepat pada tahun ini di tengah kondisi perekonomian dunia yang saat ini masih tak menentu?
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Senior Vice President, Head of Wealth Management Indonesia, Ivan Jaya, menjawab pertanyaan tersebut. Ia mengungkapkan, untuk memilih instrumen investasi harus memiliki tiga dasar utama untuk berinvestasi.
 
Ketiga hal tersebut, ungkap dia adalah, seorang nasabah haruslah mengetahui dan memahami tujuan dari investasi tersebut, mengetahui jangka waktu investasinya serta profile resiko yang dinilai oleh pribadi itu sendiri.
 
"Investasi yang paling baik tentunya kami kembalikan pada nasabah, karena tergantung profile risikonya juga. Nasabah yang mempunyai risiko besar, dia juga harus berani mengambil instrumen investasi tersebut untuk mendapatkan sesuatu yang besar pula," ucap Ivan saat ditemui Metrotvnews.com.
 
Ia menyebut, instrumen investasi produk-produk yang memiliki risiko besar seperti reksa dana dan saham sangat cocok bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah. Menurut dia, reksa dana dan saham merupakan investasi yang berisiko tinggi, tetapi juga memiliki pengembalian dana yang besar pula.
 
"Memang investasi di bidang tersebut itu high risk high return. Namun itu kita kembalikan lagi, yakni harus sesuai dengan tujuan investasi si individual tersebut," papar Ivan.
 
Terkait Rupiah yang kian melemah, ia mengungkapkan bahwa hal tersebut tak harus dikhawatirkan bagi para masyarakat Indonesia yang ingin berinvestasi. Pasalnya, Indonesia sendiri saat ini memiliki nett foreign inflow sebesar 38 persen. Selain itu, sambung dia, fix income market yang berhasil ditorehkan adalah sebesar 11,5 persen.
 
"Dengan torehan ini menunjukkan bahwa orang asing saja masuk ke Indonesia. Hal ini membuktikan Indonesia saat ini dilirik dan diminati oleh investor asing di sini," papar dia.
 
Namun, kembali lagi ia mengucapkan, terkait investasi yang cocok, itu harus disesuaikan dengan kondisi nasabah. Seperti misalnya, jikalau para nasabah masih berpikiran konservatif, maka investasi yang cocok adalah deposito atau obligasi pemerintah.
 
"Tentunya harus disesuaikan dengan nasabah itu sendiri, karena akan beda nantrinya. Kalau nasabah itu konservatif, saya menyarankan untuk pilih investasi yang konservatif juga seperti deposito atau produk obligasi pemerintah," pungkas Ivan.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif