Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA
Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA

Akhir Pekan, Rupiah Pagi Kokoh di Rp13.636/USD

Ekonomi kurs rupiah
Angga Bratadharma • 24 Januari 2020 09:22
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat pagi atau di akhir pekan terpantau menguat tipis dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp13.639 per USD. Mata uang Garuda bisa bernafas lega usai mata uang Paman Sam kehilangan tenaga di tengah pemberitaan virus korona di Tiongkok.
 
Mengutip Bloomberg, Jumat, 24 Januari 2020, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menanjak ke Rp13.636 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp13.636 hingga Rp13.637 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.443 per USD.
 
Sementara itu, kurs dolar Amerika Serikat naik terhadap euro pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), setelah bank sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga dan meluncurkan tinjauan luas kebijakannya yang cenderung melihat Presiden baru Christine Lagarde mendefinisikan kembali tujuan utama ECB dan bagaimana mencapainya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Euro 0,32 persen lebih rendah terhadap greenback pada USD1,1055, setelah tergelincir ke serendah USD1,1037, terlemah sejak 2 Desember. Yen Jepang menguat dan yuan Tiongkok jatuh ke level terendah dua minggu pada Kamis waktu setempat karena investor semakin cemas tentang penyebaran virus korona di Tiongkok.
 
Adapun ECB mempertahankan kebijakan dan pedoman tidak berubah pada pertemuannya dengan ECB masih berpendapat bahwa situasi keseluruhan membenarkan lingkungan tingkat suku bunga negatif dan masih menekankan bahwa bank tetap siap untuk menyesuaikan semua tindakan jika diperlukan.
 
"Dengan keseimbangan risiko masih condong ke arah sisi penurunan," kata Direktur Ekonomi Eropa Natascha Gewaltig Action Economics dalam sebuah catatan.
 
Bank sentral zona euro telah gagal mencapai target inflasi sedikit di bawah dua persen selama bertahun-tahun, bahkan setelah pendahulu Lagarde, Mario Draghi, meluncurkan langkah-langkah stimulus yang semakin agresif.
 
"Kami tidak akan membiarkan sela apa pun terlewat dan bagaimana kami mengukur inflasi jelas merupakan sesuatu yang perlu kita perhatikan," kata Lagarde.
 
"Pada dasarnya, apa yang dia katakan adalah bahwa mereka menilai kembali beberapa alat yang telah mereka gunakan satu dekade untuk meningkatkan inflasi tanpa hasil," kata Minh Trang, pedagang valas senior di Silicon Valley Bank di Santa Clara, California.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif