Ilustrasi. Foto: dok BTN.
Ilustrasi. Foto: dok BTN.

BTN Klaim Tidak Ada Window Dressing

Ekonomi btn
Ade Hapsari Lestarini • 06 Februari 2020 14:19
Jakarta: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mengklaim tidak ada window dressing terkait pemberian kredit dan restrukturisasi yang diberikan perseroan kepada PT Batam Island Marina (BIM). Pasalnya, segala proses bisnis yang berlangsung telah mengikuti aturan yang berlaku, melalui analisis bank, sesuai peruntukannya serta telah lunas.
 
Aksi window dressing terjadi lantaran manajemen perusahaan pada umumnya menggenjot kinerja secara signifikan pada akhir tahun. Sehingga perusahaan mencatat laba di atas ekspektasi.
 
Corporate Secretary BTN Achmad Chaerul mengatakan secara bisnis, penyaluran kredit ke PT BIM telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dia melanjutkan, dalam upaya penyelesaian permasalahan kredit di perusahaan tersebut juga sesuai dengan aturan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Terkait dugaan window dressing kami pastikan tidak ada karena secara bisnis pemberian fasilitas perbankan tersebut telah selesai dan lunas," jelas Chaerul dalam keterangan resminya, di Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020.
 
Chaerul merinci proses pemberian kredit dari BTN kepada BIM telah melalui proses analisis dan sesuai aturan yang berlaku sehingga disetujui perseroan. Adapun dari persetujuan tersebut, disalurkan plafon awal senilai Rp100 miliar melalui rekening BIM di BTN.
 
Kredit tersebut juga telah dijamin dengan agunan yang memadai dan telah diikat dengan Hak Tanggungan sesuai ketentuan yang berlaku. Sejak kredit direalisasikan sampai dengan Juli 2018, lanjut Chaerul, debitur atas nama BIM tercatat lancar dalam membayar kewajiban bunganya.
 
Menurut Chaerul, kredit BIM mulai bermasalah ketika terjadi penurunan kemampuan keuangan proyek. Penyebabnya, yakni meningkatnya Rencana Anggaran Biaya (RAB) proyek dan terlambatnya penerimaan dana dari konsumen. "Keterlambatan tersebut terjadi akibat ketidaksesuaian rencana pembangunan unit dan realisasinya di lapangan," jelas Chaerul.
 
Selain itu, BIM pun ditetapkan status Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sesuai hasil sidang pada 18 Oktober 2018 oleh Pengadilan Niaga di Medan.
 
Sesuai ketentuan, Chaerul menambahkan perseroan melakukan upaya-upaya penyelamatan kredit dengan melakukan pola penjualan piutang secara cessie kepada PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) pada 31 Desember 2018.
 
"Saat itu, cessie merupakan opsi penyelesaian terbaik dan memenuhi ketentuan yang berlaku," tegas Chaerul.
 
Chaerul menegaskan kredit terhadap PPA tidak ada indikasi window dressing karena pemberiannya telah sesuai dengan peruntukkan. Saat ini, fasilitas tersebut telah lunas pada 5 Maret 2019.
 
"Secara bisnis, pemberian dua fasilitas perbankan tersebut telah selesai," jelasnya.
 
Chaerul menambahkan perseroan juga telah dipanggil Badan Akuntabilitas Keuangan Negara Dewan Perwakilan Rakyat (BAKN DPR). "Direksi kami telah memberikan informasi dan klarifikasi atas hal tersebut kepada BAKN," tutur dia.
 
Secara korporasi dengan tegas harus saya katakan kalau kita tidak sependapat dengan sangkaan atau dugaan window dressing di 2018 yang disampaikan Ketua Serikat Pekerja BTN. Apa yang disampaikan mereka kepada BAKN banyak tidak berdasar pada data dan fakta.
 
Hingga kini, BTN juga terus meningkatkan penerapan asas Good Corporate Governance (GCG) dalam pelaksanaan bisnisnya. Perseroan pun pun terus memupuk pencadangan dengan rasio mencapai 52,67 persen pada September 2019 atau setara Rp2,18 triliun. Posisi pencadangan tersebut naik 21,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp1,79 triliun pada September 2018.
 
Di bursa global, para manajer investasi dunia dan investor institusi biasanya akan melakukan libur panjang di akhir tahun. Sehingga mereka perlu menjaga portofolio asetnya dengan membeli aset-aset atau saham-saham yang bagus guna mendongkrak harga saham di bursa.
 
Fenomena window dressing ini biasanya terjadi berulang-ulang setiap tahunnya. Biasanya para pelaku pasar memanfaatkan momen tersebut dengan membeli saham untuk mengamankan posisi para manajer investasi atau pemodal institusi besar saat ditinggal berlibur.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif