Direktur Utama PT Hanson Internasional Tbk Benny Tjokro. Foto: Forbes
Direktur Utama PT Hanson Internasional Tbk Benny Tjokro. Foto: Forbes

Benny Tjokro Ditahan, Nasabah PT Hanson Minta Balik Dana Investasi

Ekonomi Jiwasraya Hanson International
Annisa ayu artanti • 15 Januari 2020 19:38
Jakarta: Nasabah PT Hanson International Tbk menuntut kembali dana yang diinvestasikan. Hal ini menyusul ditahannya Direktur Utama perusahaan properti tersebut, Benny Tjokrosaputro atau Benny Tjokro oleh Kejaksaan Agung atas keterlibatannya di kasus gagal bayar PT Jiwasraya (Persero).
 
Penahanan Benny membuat nasabah khawatir atas dana yang mereka investasikan. Bahkan, beredar video nasabah yang menagih dananya langsung ke Benny Tjokrosaptro.
 
Atas hal tersebut, pihak perusahaan melalui Sekretaris Perusahaan Rony Agung Suseno tidak menampiknya. Perusahaan justru membenarkan video itu dan menjelaskan kondisi perusahaan terkini.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Video yang tersebar dalam berita tersebut benar," kata Rony dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 15 Januari 2020.
 
Rony mengatakan, saat ini bersama kuasa hukumnya mereka tengah melakukan negosiasi penyelesaian pinjaman individu tersebut.
 
"Saat ini perusahaan sedang dalam diskusi dengan para kreditur untuk penyelesaian pinjaman individu," ucapnya.
 
Rony juga menjelaskan, emiten berkode MYRX ini memang mempunyai beberapa perjanjian utang ke beberapa individu. Para kreditur tersebut mengajukan pencairan secara bersamaan sebelum jatuh tempo dan pada saat jatuh tempo, di saat kondisi keuangan perusahaan sedang 'kering'.
 
Oleh karena itu, sesuai dengan perjanjian utang antara kreditur dengan perusahaan, dana itu bisa diganti dengan membeli properti tanah kavling.
 
"Sebagaimana tercantum dalam salah satu klausul perjanjian utang antara kreditur dengan perseroan, yang mana didalamnya diatur mengenai opsi pembelian properti berupa kavling," jelas dia.
 
Di sisi lain, perusahaan juga buka-bukaan terhadap jenis utang lainnya seperti utang kepada perbankan dan utang jenis Medium Term Note (MTN), serta pinjaman individual yang jatuh tempo dan gagal dibayarkan.
 
Rony menyebutkan utang kepada perbankan di antaranya kepada PT Bank Victoria International Tbk, PT Bank MNC Internasional Tbk, PT Bank Mayapada Internasional Tbk, dan PT Bank Woori Saudara Indonesia Tbk. Sementara utang MTN terdapat di level anak usaha.
 
"Terkait pinjaman individual yang telah jatuh tempo memang perusahaan telah gagal bayar, akan tetapi perseroan berkomitmen untuk menyelesaikan pinjaman individual yang masih dalam porses mencari solusi terbaik yang bisa ditrawarkan untuk menyelesaikan dengan cara assset settlement, restrukturisasi utang, dan rencana perseroan menjual sebagian aset atau saham di lebel anak perseroan," beber dia.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif