Ketar-ketir Kasus Meikarta, Pemilik Jual Apartemen

Annisa ayu artanti 19 Oktober 2018 19:31 WIB
meikarta
Ketar-ketir Kasus Meikarta, Pemilik Jual Apartemen
Suasana calon pembeli Meikarta beberapa waktu lalu. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)
Jakarta: Beberapa pemilik properti di kompleks megaproyek Meikarta dihantui cemas. Mereka, satu-satu, mulai menjual properti di sana.

Penelusuran Medcom.id pada sejumlah situs jasa penjualan properti, Jumat, 19 Oktober 2018, banyak iklan properti di Meikarta, dijual dengan harga miring. Pemilik rela over kredit apartemen yang sedianya mereka tempati. Mereka tak hirau, meski sudah mencicil cukup lama.

Satu di antara pemilik unit apartemen Meikarta, yang tak mau namanya disebut, mengaku kepada Medcom.id, sudah delapan kali mencicil dengan bunga flat 7,5 persen selama enam tahun. Dia memiliki apartemen berukuran 65,9 m2 di salah satu tower Meikarta.

"Dengan harga segitu sebenarnya saya sudah cut loss," kata sang sumber kepada Medcom.id, Jumat, 19 Oktober 2018.

Dia menambahkan, andai proyek mulus, Meikarta menjanjikan serah terima apartemen pada Desember 2019. "Janjinya di agreement Desember 2019," ucap dia.

Dia jelas kecewa. Termasuk beberapa kawannya yang tergabung dalam grup calon penghuni apartemen Meikarta. Mereka akhirnya lari dan menjual apartemen. Sementara sebagian lagi masih yakin proyek besar itu tetap berjalan.

"Mereka yang masih optimistis, lanjut. Tapi, ada juga yang mundur," ucap dia.

Di sebuah situs belanja online terpampang iklan penjualan properti Meikarta dengan harga terbaik yakni termurah Rp69,5 juta dan termahal sekitar Rp350 juta sampai Rp500 juta dengan luas apartemen bervariasi.



Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelumnya telah menetapkan Bupati Bekasi, Neneng Hassanah Yasin sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Akibat kasus tersebut rumah CEO Lippo Group, James riady digeledah oleh KPK. Rumah James adalah salah satu dari lima lokasi kasus dugaan suap tersebut.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pun mengimbau masyarakat untuk menunda rencana pembelian properti di Meikarta kepada masyarakat.

"Dengan adanya kasus OTT ini, YLKI kembali menegaskan agar masyarakat berhati-hati untuk rencana transaksi pembelian dengan Meikarta, daripada nantinya timbul masalah," ucap Ketua YLKI Tulus Abadi.

Berdasarkan data Bidang Pengaduan YLKI pada 2018, Tulus menuturkan, pengaduan tertinggi ada pada pengaduan properti. Sebanyak 43 persen dari pengaduan properti tersebut merupakan pengaduan konsumen Meikarta  yakni 11 kasus.

"Mayoritas pengaduan Meikarta adalah masalah down payment yang tidak bisa ditarik lagi, padahal diiklannya mengatakan refundable. Plus masalah model properti yang dipesan tidak ada, padahal iklannya menyebutkan adanya model tersebut," pungkas dia.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id