Illustrasi. Dok ;AFP.
Illustrasi. Dok ;AFP.

Kuartal I, Adira Finance Salurkan Pembiayaan Rp52,6 Triliun

Ekonomi adira dinamika multifinance
Nia Deviyana • 23 April 2019 20:52
Jakarta: Permintaan konsumen yang tinggi terhadap kendaraan menjadi salah satu faktor pendorong kinerja PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon) pada kuartal I-2019.
 
Anak usaha perseroan, Adira Finance, pun menjadi salah satu kontributornya. Direktur Bank Danamon Satinder Ahluwalia mengatakan Adira Finance turut menyumbang kontribusi melalui pertumbuhan pembiayaan kendaraan bermotor sebesar 14 persen.
 
"Adira Finance tumbuh 14 persen secara tahunan menjadi Rp52,6 triliun pada kuartal I-2019," jelas Satinder di kantornya, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa, 23 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertumbuhan tersebut merupakan pembiayaan kendaraan roda dua dan roda empat yang tumbuh masing-masing sebesar 14 persen dan 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kendati demikian, raihan laba bersih Bank Danamon pada kuartal I-2019 mengalami penurunan sebesar 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada tiga bulan pertama 2019, Danamon membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp933 miliar.
 
Hal tersebut karena Bank Danamon enggan membebankan bunga yang tinggi ke nasabah karena dikhawatirkan bakal angka kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) bakal naik. Bank Danamon mengalami masalah dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI)7 Day Reverse Repo Rate bertahan di level enam persen.
 
"Saya bilang kuartal kemarin enggak cukup prudent, tapi kita tidak pass on ke nasabah karena takut berdampak pada NPL," kata Satinder.
 
Kendati demikian, Satinder memastikan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) bank Danamon masih kuat di mana CAR konsolidasian dan CAR bank-only masing-masing berada pada posisi 22 persen dan 22,8 persen.
 
Untuk giro dan tabungan (Current Account and Savings Accounts/CASA) naik dua persen menjadi Rp50,9 triliun, sementara deposito naik 11 persen menjadi Rp59,5 triliun.
 
"Dengan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) pada posisi 96,4 persen, likuiditas bank terkelola dengan baik untuk mendukung pertumbuhan," imbuhnya.
 
Satinder menuturkan pihaknya terus mempertahankan kualitas aset melalui prosedur pengelolaan risiko yang pruden, serta proses collection dan credit recovery yang disiplin.
 
"Rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat di posisi 2,8 persen, cukup positif dibandingkan akhir kuartal pertama 2018 yang berada di posisi 3,2 persen," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif