Adaro Segera Miliki Tambang Kestrel
Ilustrasi tambang batu bara. (FOTO: ANTARA/Nova Wahyudi)
Jakarta: Perusahaan tambang PT Adaro Energy (Tbk) segera memiliki tambang batu bara Kestrel milik Rio Tinto di Australia. Pasalnya, Adaro bersama EMR Capital telah mendapat izin dari pemerintah Australia untuk mengakuisisi 80 persen saham Kestrel milik Rio Tinto. Adapun porsi Adaro pada akuisisi ini sebesar 48 persen, sedangkan EMR Capital 52 persen.

"Izin pemerintah Australia sudah keluar pekan lalu. Kami saat ini sedang mempersiapkan kondisi lain, terutama financing (pendanaan)," ujar Direktur Adaro Moh Syah Indra Aman di Jakarta.

Ia menyebutkan financial close untuk akuisisi itu ditargetkan selesai pada kuartal III-2018. Besaran dana yang dikeluarkan Adaro dan EMR Capital untuk mengakuisisi saham tambang batu bara kokas (cooking coal) itu sebesar USD2,25 miliar atau sekitar Rp31,5 triliun.

Dari total dana itu, lanjut Indra, sebesar 40 persen berasal dari kas internal, sedangkan 60 persen lagi berasal dari sindikasi perbankan dalam dan luar negeri. "Banknya dari luar negeri dan lokal. Kalau (bank) lokal, Bank Mandiri, misalnya," sebutnya.

Seperti diketahui, akuisisi tambang Kestrel itu dilakukan Adaro untuk memenuhi target sebagai produsen batu bara kokas terbesar kelima di dunia. Adapun cadangan tambang Kestrel yang bisa dipasarkan sekitar 146 juta ton dan sumber daya sebesar 241 juta ton.

Batu bara kokas itu nantinya bisa digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baja. Adaro melihat kebutuhan industri baja dalam negeri dan dunia yang meningkat membuat kebutuhan semakin besar di masa depan.

Pada kesempatan itu, Indra pun mengakui Adaro telah didekati dua perusahaan tambang yang menginginkan transfer kuota batu bara untuk memenuhi kewajiban batu bara dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) kepada PT Perusahaan Listrik Nasional (PLN) sebanyak 25 persen.

Sebagai informasi, untuk memenuhi kewajiban DMO, beberapa perusahaan tambang batu bara melakukan transfer kuota lantaran spesifikasi batu bara yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan PLTU milik PLN. (Media Indonesia)

 



(AHL)