Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno (tengah). (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami)
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno (tengah). (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami)

2025, Krakatau Steel Diharapkan Terbebas dari Kerugian

Ekonomi krakatau steel
Suci Sedya Utami • 12 Juni 2019 18:55
Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini tengah membenahi manajemen keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang masih merugi.
 
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan dengan upaya tersebut diharapkan akan bisa mengembalikan keuangan Krakatau Steel sehat seperti sediakala.
 
"Kita berharap 2025 nanti Krakatau Steel betul lagi lah, semoga sudah sehat," kata Fajar ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fajar mengatakan kerugian perusahaan baja pelat merah ini kini mulai berkurang. Dia bilang masih ada sisa kerugian harus dibenahi dengan cara restrukturisasi.
 
Di samping itu, permintaan atau demand juga mengalami penurunan sehingga berdampak pada keuangan. "Demand ini kan masalah pasar terbuka hilir impor. Makannya impor harus dikurangi," jelas dia.
 
Krakatau Steel mengalami kerugian selama tujuh tahun berturut-turut dan mencatat banyak utang jangka pendek. Dari laporan keuangan perusahaan tahun lalu, utangnya mencapai USD2,49 miliar atau meningkat 10,45 persen dibanding tahun sebelumnya yang sebesar USD2,26 miliar.
 
Utang jangka pendek yang harus dibayarkan oleh perusahaan mencapai USD1,59 miliar, naik 17,38 persen dibandingkan 2017 senilai USD1,36 miliar. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan utang jangka panjang sebesar USD899,43 juta.
 
Beban keuangan yang dicatatkan Krakatau Steel pada 2018 adalah sebesar USD112,33 juta atau setara dengan Rp1,57 triliun (asumsi kurs Rp 14.000) tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan 2011 yang hanya USD40,62 juta.
 
Akibatnya Krakatau Steel masih harus menelan kerugian sepanjang tahun lalu, meski pendapatan naik 20 persen dari 2017 sebesar USD1,44 miliar, menjadi USD1,73 miliar pada 2018. Rugi bersih perusahaan tercatat USD74,82 juta atau Rp1,05 triliun (kurs Rp14.000), meski angka ini turun dibandingkan kerugian 2017 senilai USD81,74 juta.
 
Selain itu, 71 persen utang jangka pendek merupakan pinjaman yang diperoleh dari pihak bank, baik atas nama perusahaan atau entitas anak. Pinjaman diberikan oleh 13 bank yang berbeda pada Krakatau Steel dan anak usahanya.
 
Utang jangka pendek bank tersebut mayoritas dalam bentuk Letter of Credit impor (LoC), dan kredit modal kerja, baik yang berbasis rupiah maupun dolar Amerika Serikat (AS). Adapun pinjaman terbesar diberikan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan total nilai USD359,6 juta atau setara Rp5,03 triliun.
 
Jumlah itu terdiri dari LoC impor USD161,2 juta, fasilitas bank overdraft (dana cerukan) sebesar USD131,01 juta, dan kredit modal kerja sebesar USD7,32 juta.Selanjutnya pinjaman terbesar kepada Krakatau Steel selanjutnya diberikan oleh PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai USD238,36 juta dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebesar USD199,25 juta.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif