Hal ini berarti, BCA menjadi kandidat kuat merek Indonesia pertama yang mampu masuk ke dalam peringkat global BrandZTM pada 2016. Demikian disampaikan CEO of The Store, WPP, David Roth dalam siaran persnya, di Jakarta, Kamis (20/8/2015).
BCA mengungguli merek-merek lain pada peringkat BrandZ™ Top 50 Most Valuable Indonesian Brands yang pertama kalinya diluncurkan kemarin oleh WPP dan Millward Brown. Sebuah bank komersial yang memiliki sejarah selama 50 tahun, di mana BCA merupakan pelopor mobile banking di Indonesia dan telah meluncurkan berbagai inovasi popular, termasuk Flazz, sebuah kartu transaksi pembayaran prabayar.
"Untuk Indonesia, waktunya telah tiba. Saat Tiongkok dan India mengambil berita utama, Indonesia pun bertransformasi menjadi pusat perekonomian yang kuat di Asia Tenggara. Negara ini berada di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang signifikan, menghadirkan kondisi pasar yang menarik untuk merek lokal dan global, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil penelitian BrandZ™," jelas dia.
Keseluruhan nilai merek-merek dalam ranking Top 50 Indonesia berada di angka Rp841,5 triliun, tidak jauh dengan nilai keseluruhan Top 50 di India yang mencapai Rp964,6 triliun. Sedangkan jika dibandingkan dengan Tiongkok angka ini hanya mencapai dari nilai merek-merek yang dimiliki oleh Top 50 Tiongkok.
Merek-merek di peringkat lima teratas setara dengan 57 persen total nilai (Rp510,6 triliun) total nilai, fenomena pemusatan kekuatan merek yang juga tampak di peringkat India, Tiongkok, dan Brasil.
Menurut dia, bank-bank mendominasi 24 persen dari keseluruhan peringkat Top 50, dengan empat merek berada di peringkat Top 10, setara dengan Rp379,5 triliun dari total nilai Top 50. Persentase ini dapat dikatakan sama dengan Top 50 milik India, namun lebih tinggi dibandingkan dengan Top 50 Brasil (12 persen), Tiongkok (15 persen), dan global (16 persen).
Keempat bank-bank yang mendominasi ini unggul dalam hal menjangkau masyarakat dan condong menggunakan teknologi digital untuk berinovasi, sesuai dengan kecenderungan masyarakat saat ini.
Di luar merek-merek yang termasuk sepuluh besar, sektor seperti properti, makanan dan produk susu, minuman ringan, kebutuhan pribadi, serta retail dan hiburan terlihat mendominasi. Di mana, barang konsumen yang bergerak cepat (fast moving consumer goods/FMCG) mendominasi sebanyak 28 persen dari keseluruhan peringkat, dengan sektor lain.
Sedangkan, perusahaan dalam sektor teknologi di Indonesia belum mampu menonjol, sejalan dengan realita bahwa produk-produk lokal belum mencapai skala produksi dan penjualan yang signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News