Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA
Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA

Balik Arah, Rupiah Pagi Gelincirkan Dolar AS

Ekonomi kurs rupiah
Angga Bratadharma • 21 Februari 2020 09:00
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat pagi terpantau perkasa dibandingkan dengan penutupan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp13.750 per USD. Mata uang Garuda sukses menyalip mata uang Paman Sam di tengah kekhawatiran virus korona dari Tiongkok.
 
Mengutip Bloomberg, Jumat, 21 Februari 2020, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menguat ke Rp13.730 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp13.730 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.537 per USD. Adapun pada perdagangan pagi di hari sebelumnya, rupiah dibuka tertekan terhadap USD.
 
Di sisi lain, Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), dipimpin oleh penurunan saham-saham teknologi kelas berat. Kondisi itu terjadi setelah laporan kasus virus korona baru di Tiongkok dan negara-negara lain meningkatkan kekhawatiran tentang penyebaran dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indeks Dow Jones Industrial Average turun 128,05 poin atau 0,44 persen menjadi 29.219,98 poin. Indeks S&P 500 turun 12,92 poin atau 0,38 persen menjadi 3.373,23 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup turun 66,21 poin atau 0,67 persen, menjadi 9.750,96 poin.
 
Sebanyak tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan teknologi turun 1,01 persen, memimpin kerugian sektoral. Saham raksasa teknologi AS, kelompok FAANG dari Facebook, Apple, Amazon, Netflix, hingga induk perusahaan Google, Alphabet, semuanya mundur.
 
Investor terkejut oleh penurunan tajam pagi yang membuat S&P 500 turun lebih dari satu persen pada hari itu, dengan beberapa pedagang menghubungkan ke laporan Global Times bahwa rumah sakit pusat Beijing telah melaporkan 36 kasus baru. Ini meningkatkan kekhawatiran tentang potensi peningkatan infeksi di ibu kota Tiongkok.
 
Investor sudah gelisah setelah Jepang melaporkan dua kematian baru dan Korea Selatan melaporkan peningkatan infeksi baru. Penelitian menunjukkan virus itu menyebar lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.
 
"Pertanyaan yang mendasari adalah ketidakpastian mengenai virus korona dan apakah itu akan menyebar lebih lanjut dan berdampak pada kegiatan ekonomi global sebelum semuanya stabil dan akhirnya menjadi lebih baik," kata Direktur Eksekutif dan CIO RDM Financial Group Michael Sheldon, di Hightower di Westport, Connecticut.
 
Dia mengatakan tampaknya investor mengambil untung dalam beberapa saham teknologi tinggi dan membeli saham kelompok lain, termasuk yang berkapitalisasi kecil. Indeks Russell 2000 berakhir naik 0,2 persen pada Kamis waktu setempat.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif