Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)
Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)

Barito Pacific Bakal Pecah Nilai Nominal Saham

Ekonomi saham barito pacific
Husen Miftahudin • 10 Juli 2019 16:38
Jakarta: PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berencana melakukan aksi korporasi berupa pemecahan nilai nominal saham (stock split) dalam waktu dekat ini. Stock split akan disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilakukan pada Jumat, 19 Juli 2019.
 
Kepala Riset Narada Kapital, Kiswoyo Adi Joe menyambut baik rencana stock split yang akan dilakukan BRPT. Agar saham Barito makin terjangkau investor ritel, dia menyarankan rasio pemecahan berkisar 1:4 atau 1:5.
 
"Sehingga jika tadinya harga BRPT sekitar Rp3.200-Rp3.400 per saham menjadi Rp640-Rp800 per saham, tergantung rasio yang dipilih. Tentunya saham BRPT akan lebih likuid dan lebih banyak investor ritel yang akan menyerap. Karena harga saham lebih murah," kata Kiswoyo dalam keterangannya, Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Kiswoyo, pemecahan nilai nominal saham juga akan membuat jumlah saham beredar perseroan meningkat dari posisi yang ada saat ini.
 
"Saya melihat strategi pemecahan nilai nominal saham yang dilakukan BRPT cukup bagus. Merujuk pada saat stock split 2017, harga saham BRPT saat ini sudah naik sekian persen. Dengan prospek bisnis yang bagus dalam jangka panjang, bukan tak mungkin harga sahamnya akan kembali meningkat," tutur Kiswoyo.
 
Apalagi, lanjutnya, BRPT memiliki anak usaha PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang diuntungkan dengan turunnya harga minyak pada saat ini. Maka, akan menekan biaya bahan baku perseroan ketika melakukan produksi petrokimia.
 
Sentimen positif lainnnya, TPIA juga akan segera meresmikan operasional pabrik baru Polyethylene (PE) yang akan meningkatkan kapasitasnya menjadi 736 KT per tahun, dari posisi saat ini 336 KT per tahun.
 
"Peningkatan kapasitas produksi tersebut akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Meski kenyataannya, Indonesia masih ketergantungan dengan impor petrokimia," jelas dia.
 
Tak hanya itu, setelah BRPT mengakuisisi Star Energy (SE), dampaknya sangat besar bagi perusahaan, yakni mencapai sekitar 50 persen dari EBITDA Barito. Akuisisi terhadap sejumlah aset panas bumi Chevron yang dilakukan SE dinilai akan memberikan pendapatan yang stabil terhadap induk usaha.
 
Meski begitu, Kiswoyo meminta investor untuk memperhatikan berbagai tantangan bisnis yang dihadapi perseroan. Tingginya kebutuhan ekspansi group, peningkatan biaya produksi, dan penurunan margin penjualan, akan menjadi tantangan bagi manajemen BRPT pada tahun ini.
 
"Memang sangat tepat untuk investor yang ingin menjadikan BRPT sebagai long term portofolio, bukan untuk trading sesaat. Karena bisnisnya masih cukup bagus untuk jangka panjang. Ketika bisnis masih cukup bagus, maka prospek saham perseroan juga akan mengalami peningkatan ke depannya, setelah melakukan stock split," pungkas dia.
 

(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif