Moody's Turunkan Peringkat Agung Podomoro
Salah satu produk properti Agung Podomoro. (FOTO: MI/Usman)
Jakarta: Moody's Investors Service menurunkan peringkat perusahaan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menjadi B1 dari Ba3.

Selain itu, Moody's juga menurunkan peningkat surat utang globalnya yang diterbitkan anak usahanya APL Realty Holdings Pte Ltd dari Ba3 menjadi B1.

"Penurunan peringkat mencerminkan ekspektasi kami bahwa metrik kredit Agung Podomoro akan melemah ke tingkat yang tidak lagi konsisten dengan peringkat Ba3 karena tingkat penjualan pemasarannya yang rendah," kata Wakil Presiden Moody's dan Pejabat Senior Credit Jacintha Poh dalam keterangannya yang dikutip Medcom.id, Rabu, 28 November 2018.

Selain itu, Poh menjelaskan, arus kas perseroan dalam 12-18 bulan ke depan akan lebih banyak berasal dari penjualan tunggal skala besar atau block sales. Karakteristik tersebut dinilai lebih cocok dengan peringkat B1.

"Kami berharap Agung Podomoro akan terus menghasilkan arus kas berulang yang dapat diprediksi cukup untuk menutup 0,9x-1,0x dari biaya bunga yang disesuaikan pada 2018 dan 2019," tambah Poh.

Selama 10 bulan pertama 2018, Agung Podomoro meraih sekitar Rp2,3 triliun penjualan pemasaran inti meskipun ada upaya untuk memacu permintaan melalui promosi dan diskon khusus.

Sementara untuk pencapaian penjualan pemasaran 10 bulan lebih tinggi dari Rp1,9 triliun yang dicapai untuk tahun penuh 2017, jauh di bawah ekspektasi Moody's sebesar Rp3,5 triliun dan menunjukkan lemahnya permintaan dari pembeli.

Oleh karena itu, Moody's menganggap kenaikan kuat dalam penjualan selama dua bulan terakhir 2018 sebagai tidak mungkin.

Lebih lanjut, Moody mengharapkan bahwa meningkatnya suku bunga dan risiko politik menjelang pemilihan presiden yang akan datang di Indonesia dapat mengurangi sentimen di antara pembeli rumah dan membatasi penjualan pemasaran pada 2019.

Moody's pun memprediksi metrik kredit utama Agung Podomoro akan melemah selama 12 hingga 18 bulan ke depan. Penjualan marketing yang tidak bersemangat juga akan menghasilkan Agung Podomoro lebih mengandalkan arus kas.

Moody's memprediksi emiten berkode APLN ini akan mendapatkan pendapatan dari penjualan Hotel Sofitel Bali untuk sekitar Rp1,6 triliun pada akhir 2018 dan penjualan lahan industri lainnya di Podomoro Industrial Park di Karawang, Jakarta Raya untuk PT CFLD Karawang Pengembangan Kota Industri Baru sekitar Rp2,5 triliun pada 2019, tetapi uang tunai akan dikumpulkan selama periode tiga tahun dari 2019 ke 2021.

Moody's juga mencatat likuiditas Agung Podomoro akan tetap lemah selama 12 bulan ke depan dikarenakan adanya utang jangka pendek sekitar Rp1,7 triliun.

Meskipun demikian, Moody's mengharapkan risiko refinancing akan berkurang karena masih adanya fasilitas komitmen kredit perseroan sekitar Rp2 triliun per 30 September 2018 dan rekam jejak perseroan yang cukup baik.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id