Menurut Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia, Agung Wiharno, penurunan pendapatan banyak disebabkan oleh turunnya volume penjualan menjadi 6,56 juta ton atau turun 0,9 persen dari periode yang sama di 2015 sebesar 6,61 juta ton.
"Penurunan juga karena ada tekanan harga jual sebagai akibat dari naiknya tingkat persaingan di pasar domestik," ucap Agung, ditemui usai RUPST Semen Indonesia, di Hotel JW Marriot, Jakarta, Jumat (13/5/2016).
Pendapatan yang turun, tutur Agung, memengaruhi laba bersih perseroan sebesar Rp1,03 triliun di kuartal I-2016 atau susut 13 persen dari periode yang sama di 2015 sebesar Rp1,19 triliun.
Melalui banyak upaya efisiensi, sambung Agung, perseroan berhasil menurunkan beban pokok penjualan sebesar lima persen, dari Rp3,78 triliun menjadi Rp3,6 triliun di sepanjang tiga bulan pertama tahun lalu.
Pada tahun ini, Agung menambahkan, persaingan industri semen dalam negeri semakin meningkat dengan telah mulai beroperasinya pabrik-pabrik semen terintegrasi milik para pemain baru di Indonesia, baik pemain global maupun swasta nasional.
"Pasokan semen dalam negeri diperkirakan akan meningkat 20 persen, bila dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sementara dari sisi demand diperkirakan tumbuh 5-6 persen," pungkas Agung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News