Direktur ACST Hilarius Aswandhi mengatakan, perseroan baru meraih kontrak baru sebesar Rp600 miliar di 2014, dari target sebesar Rp1,5 triliun. Sedangkan total kontrak berjalan selama 2014 mencapai Rp3,3 triliun. Adanya pemilu membuat perseroan menahan diri, sehingga target kontrak tidak dicapai dengan baik.
"Banyak menunda proyek konstruksi, terpaksa mengulang pada tahun ini," ucap Hilarius ditemui usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) ACST di Graha CIMB Niaga, Jakarta, seperti dikutip Selasa (10/2/2015).
Terkait target kontrak pada tahun ini, dia belum bisa menjelaskan secara detail. Lantaran perseroan masih menghitung semua hal, setelah PT United Tractors Tbk (UNTR) masuk ke dalam manajemen ACST.
"Kita cari yang pas sinerginya. Setelah itu, kita baru bisa fokus pada pengembangan bisnis," tukas dia.
UNTR melalui anak usahanya, PT Karya Supra Perkasa (KSP), telah melakukan pembelian sebanyak 200 juta saham atau mewakili 40 persen dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam ACST, dari PT Cross Plus Indonesia (CPI) dan PT Loka Cipta Kreasi (LCK).
"Proses akuisisi tersebut merupakan kelanjutan dari Memorandum of Understanding (MOU) yang telah ditandatangani pada 10 Oktober 2014 dan Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement (CSPA) atau Perjanjian Pengikatan Jual Beli Saham pada tanggal 18 Desember 2014. Berdasarkan MOU dan CSPA tersebut, KSP berencana untuk membeli saham ACST minimum sejumlah 250,5 juta saham (mayoritas)," kata Corporate Secretary UNTR, Sara K Loebis.
Sara menjelaskan, selanjutnya KSP akan melaksanakan pembelian saham ACST dari pemegang saham publik melalui Mandatory Tender Offer (MTO) atau Penawaran Tender Wajib. Melalui MTO tersebut, diharapkan KSP dapat memperoleh sedikitnya 50,5 juta saham atau mewakili 10,1 persen dari seluruh jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam ACST, untuk memperoleh Mayoritas Saham.
Apabila dalam proses MTO, KSP gagal untuk memperoleh sedikitnya 50,5 juta saham, dia menegaskan, maka KSP akan melakukan pembelian tambahan saham dari CPI dan LCK, sehingga jumlah total saham yang akan diperoleh KSP adalah sebanyak-banyaknya setara dengan Mayoritas Saham.
Prosesi penutupan transaksi pembelian saham-saham tersebut bertempat di Gedung Astra International dan dilakukan oleh Tan Tiam Seng Ronnie pemilik CPI, Hilarius Arwandhi pemilik LCK, Gidion Hasan Presiden Direktur KSP, dan Jeffrey Chandrawijaya Direktur KSP.
UNTR mengakuisisi ACST memiliki nilai transaksi yang mencapai Rp650 miliar dengan harga kisaran 3.250 per lembar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News