Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Rupiah Pagi Kokoh di Rp14.031/USD

Ekonomi kurs rupiah
Angga Bratadharma • 06 Desember 2019 09:01
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Jumat pagi atau di akhir pekan terpantau menguat dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.068 per USD. Rupiah berhasil menyalip USD yang tengah melemah akibat negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok kembali tidak menentu.
 
Mengutip Bloomberg, Jumat, 6 Desember 2019, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menanjak ke Rp14.031 per USD. Pagi ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.029 hingga Rp14.031 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp13.815 per USD.
 
Sementara itu, kurs dolar Amerika Serikat turun untuk sesi kelima berturut-turut pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Pelemahan it terjadi lantaran tertekan oleh data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan dan kinerja kuat minggu ini oleh euro dan pound Inggris.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam perdagangan sore, indeks USD turun 0,2 persen menjadi 97,43654. Euro menguat sebanyak 0,2 persen terhadap dolar menjadi 1,1102 dolar, sementara dolar tergelincir 0,1 persen terhadap yen menjadi 108,76 yen.
 
Sterling adalah peraih keuntungan terbesar minggu ini, naik 1,7 persen terhadap dolar, karena tampaknya Partai Konservatif yang berkuasa akan memenangkan mayoritas dalam pemilihan minggu depan dan mengakhiri tiga setengah tahun ketidakpastian terkait Brexit.
 
Pound Inggris diperdagangkan pada level tertinggi tujuh bulan 1,3165 dolar dan memperpanjang kenaikan terhadap euro ke level tertinggi dua setengah tahun di 84,28 pence. Pound terakhir menguat 0,3 persen terhadap greenback pada 1,3155 dolar.
 
Federal Reserve, pada pertemuan kebijakan moneter terakhirnya, mengatakan pihaknya bertahan setelah memangkas suku bunga tiga kali tahun ini. Tetapi beberapa analis menyarankan Fed dapat mempertimbangkan kembali sikap itu jika data ekonomi AS terus memburuk.
 
"Anda melihat kekhawatiran bahwa ekonomi AS kembali melambat hanya karena beberapa angka buruk dari kedua data ISM (Institute for Supply Management)," kata Joe Trevisani, analis senior di FXStreet.com.
 
Sebagian besar mata uang diperdagangkan dalam kisaran ketat setelah berita utama yang saling bertentangan mengenai apakah perjanjian perdagangan AS-Tiongkok dapat dicapai sebelum 15 Desember, ketika tarif tambahan AS mulai berlaku untuk barang-barang Tiongkok.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif