Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

2020, Indeks Bisa Tembus Level 7.000

Ekonomi ihsg
Annisa ayu artanti • 13 Januari 2020 10:05
Jakarta: Bahana Sekuritas memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan menguat mencapai level 7.000 meskipun tekanan global belum reda.
 
Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi mengatakan tekanan terhadap pasar saham memang belum usai. Setelah pada perdagangan terakhir 2019, IHSG terkoreksi akibat aksi profit taking investor. Namun memasuki awal 2020 pasar saham kembali mendapat tekanan dari global akibat serangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran.
 
"Ke depan pasar saham diperkirakan akan bangkit, dengan beberapa faktor pendukung," kata Lucky dalam keterangan tertulisnya, Senin, 13 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lucky menjelaskan faktor pertama yang akan mendorong IHSG adalah sentimen positif dari kinerja emiten yang diperkirakan akan lebih baik pada 2020. Ia memprediksi laba bersih emiten akan tumbuh menjadi sembilan persen.
 
"Bila pada tahun lalu laba bersih emiten tumbuh rata-rata sekitar dua persen, maka pada tahun ini diperkirakan akan naik pada kisaran sembilan persen," sebut dia.
 
Kenaikan laba emiten tersebut diprediksi akan terjadi pada seluruh kinerja sektor kecuali sektor batu bara yang masih akan mendapat tekanan dari rendahnya harga batu bara di pasar global.
 
Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan pasar surat utang dan properti, pasar saham masih menawarkan keuntungan yang lebih baik.
 
Pasalnya, dengan level suku bunga acuan dan infasi yang terjaga rendah, yield surat utang diperkirakan tidak akan mengalami banyak kenaikan, bahkan malah cenderung turun.
 
"Apalagi The Fed telah memberikan indikasi suku bunga yang tidak akan turun lagi pada tahun ini," imbuh dia.
 
Sejalan dengan suku bunga global, lanjut Lucky, Bank Indonesia (BI) juga telah memberikan sinyal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
 
Bank sentral telah menurunkan suku bunga BI 7-day reserve repo rate secara total sebesar satu persen sejak Juli hingga Oktober ke level lima persen dan bertahan hingga Desember 2019, dengan tingkat inflasi sepanjang 2019 sebesar 2,72 persen. Saat ini rata-rata yield surat utang berada pada kisaran tujuh persen.
 
"Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini," ujarnya.
 
Turunnya suku bunga yang diikuti dengan realisasi kebijakan omnibus law diyakini akan mampu menggenjot masuknya investasi, yang pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.
 
Faktor lainnya yang membuat pasar saham akan lebih bergairah pada tahun ini adalah rencana kenaikan pajak reksadana atau mutual fund menjadi 10 persen dari yang saat ini berlaku sebesar lima persen.
 
"Semula kenaikan pajak reksa dana direncanakan pada 2014, namun kenaikan tersebut tertunda," ungkap dia.
 
Menurut Lucky, rencana kenaikan pada 2021 ini tidak akan mundur lagi karena dana kelolaan reksa dana sudah naik cukup signifikan dalam lima tahun terakhir.
 
Di sisi lain pemerintah juga berencana memotong pajak bagi korporasi. Namun dampak dari pemotongan pajak bagi korporasi yang membuat pendapatan negara berkurang ini akan ditutupi dari kenaikan pajak reksa dana.
 
"Rencana kenaikan pajak reksa dana ini akan menjadi katalis bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham," sebut dia.
 
Lebih lanjut, meski kondisi perekonomian global masih dihantui sejumlah ketidakpastian, investor asing diperkirakan akan kembali melirik pasar saham negara berkembang, setelah pada tahun lalu, investor asing membukukan aksi jual yang cukup besar.
 
"Berbagai skenario ini membuat kami cukup yakin pasar saham akan kembali bergairah pada tahun ini, sehingga bisa mendorong indeks naik hingga ke level 7.000," papar Lucky.
 
Beberapa sektor yang masih positif sepanjang tahun ini diperkirakan berasal dari emiten perbankan, tembakau atau rokok, CPO, dan obat-obatan. Sedangkan beberapa sektor yang harus dicermati di antaranya batu bara, konsumer yang terkait retailers sebagai dampak dari kenaikan iuran BPJS Kesehatan.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif