NEWSTICKER
Ilustrasi - - Foto: Antara/Reno Esmir
Ilustrasi - - Foto: Antara/Reno Esmir

2019, Permata Bank Cetak Laba Bersih Rp1,5 Triliun

Ekonomi bank permata
Annisa ayu artanti • 19 Februari 2020 12:11
Jakarta: PT Bank Permata Tbk membukukan pertumbuhan laba bersih 2019 sebesar Rp1,5 triliun. Laba bersih tersebut naik 66,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp901,25 miliar.
 
Kemudian kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat turun dari 4,4 persen pada 2018 menjadi 2,8 persen di akhir 2019.
 
Direktur Utama PermataBank Ridha D.M. Wirakusumah menjelaskan capaian tersebut merupakan komitmen perusahaan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkokoh profitabilitas dari tahun ke tahun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Upaya kami untuk menjaga kualitas aset yang sehat, kedisiplinan biaya operasional secara efisien, menjaga rasio NPL di bawah ketentuan regulator, serta untuk memberi inovasi layanan yang berkelanjutan terutama melalui digitalisasi menjadi kunci utama keberhasilan mencapai target pendapatan bank di tahun ini," kata Ridha dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 19 Februari 2020.
 
Ia mengungkapkan profitabilitas sampai dengan kuartal IV-2019 juga tumbuh signifikan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan usaha yang meningkat.
 
Terkait kenaikan pertumbuhan laba operasional sebelum penyisihan penurunan nilai aset tercatat sebesar 18,8 persen atau menjadi Rp3,04 triliun. Laba operasional itu dikontribusi oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 5,6 persen dan pendapatan operasional selain bunga (Fee Based Income) sebesar 24,3 persen.
 
Untuk Net Interest Margin (NIM) tercatat meningkat menjadi 4,4 persen, naik 16 bps dibandingkan posisi September 2019 sebesar 4,2 persen atau naik 28 bps dibandingkan posisi Desember 2018 sebesar 4,1 persen.
 
Seiring dengan kualitas aset, kata Ridha, biaya pencadangan kredit menurun sebesar 32,5 persen menjadi sebesar Rp1,14 triliun dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp1,68 triliun.
 
Biaya operasional perusahaan juga terkontrol dengan baik sehingga rasio efisiensi BOPO membaik secara signifikan menjadi 87 persen di Desember 2019 dibandingkan 93,4 persen pada periode yang sama tahun lalu.
 
Sementara rasio NPL gross dan NPL net di Desember 2019, membaik ke level 2,8 persen dan 1,3 persen. Jika dibandingkan dengan Desember 2018 keduanya mengalami penurunan. Saat itu NPL Gross dan NPL net masing-masing sebesar 4,4 persen dan 1,7 persen dengan NPL coverage ratio terus terjaga baik sebesar 132,8 persen.
 
"Perbaikan rasio NPL gross merupakan hasil dari restukturisasi kredit bermasalah, penghapusan kredit, penjualan dan penyelesaian kredit bermasalah (loan settlement) dan ditunjang oleh pertumbuhan kredit good-book secara signifikan," jelas dia.
 
Terkait likuiditas, perusahaan mengklaim tetap terjaga optimum dengan rasio Loan-to-Deposit pada Desember 2019 sebesar 86,3 persen, sedikit menurun dibandingkan posisi Desember 2018. Namun begitu tetap sejalan dengan upaya perusahaan untuk menjaga likuiditas tetap optimal serta mendukung pertumbuhan kredit di masa mendatang.
 
PermataBank juga mencatat peningkatan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 4,3 persen (year-on-year). Peningkatan tersebut dikontribusi oleh pertumbuhan dana giro dan tabungan masing-masing sebesar 15,5 persen dan 3,6 persen. Sementara dana mahal deposito berjangka turun sebesar 0,6 persen. Untuk rasio CASA Bank berhasil dijaga di level 51 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 48 persen.
 
"Pencapaian tersebut merupakan strategi PermataBank dalam menjaga keseimbangan untuk memaksimalkan profitabilitas Bank dengan tetap mengelola likuiditas yang optimal didukung oleh struktur sumber pendanaan yang lebih baik," jelasnya.
 
Terkait posisi permodalan, perusahaan mencatat terus mengalami meningkat dan terjaga kuat. Common Equity Tier 1 (CET-1) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) di akhir Desember 2019 sebesar 18,7 persen dan 19,9 persen, mengalami kenaikan dibanding 17,6 persen dan 19,4 persen pada periode yang sama tahun lalu.
 
Rasio permodalan perusahaan juga lebih tinggi dibandingkan ketentuan minimum modal yang berlaku sehingga menunjukan posisi permodalan yang kuat untuk mendukung pertumbuhan aset di masa mendatang.
 
Adapun dampak dari implementasi PSAK 71 (IFRS 9) yang dimulai pada 1 Januari 2020 diproyeksikan tidak signifikan mempengaruhi kemampuan permodalan Bank.
 
"2019 merupakan tahun yang cemerlang bagi kami dengan adanya berbagai kolaborasi dan sinergi dengan Fintech oleh Retail Banking, kerjasama di bisnis Wholesale Banking, inisiatif baru di Unit Usaha Syariah PermataBank serta pencapaian baik dari digital banking melalui API Banking, PermataMobile X, PermataBank.com dan Model Branch baru kami yang serba digital," ucapnya.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif