Ilustrasi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Emiten yang Berpotensi Masuk dan Terdepak di Jajaran LQ45

Ekonomi emiten bei
Ade Hapsari Lestarini • 23 Januari 2020 11:48
Jakarta: PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara rutin akan meninjau beberapa indeks sahamnya pada bulan ini, dengan menyesuaikan masing-masing konstituen dan bobot. Evaluasi juga dilakukan di jajaran saham indeks LQ45.
 
Trimegah Sekuritas dalam riset terbarunya mengatakan saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) layak masuk ke dalam jajaran indeks LQ45. Selain LPKR ada juga PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Merdeka Cooper Gold Tbk (MDKA), PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
 
Sementara, sejumlah saham yang berpotensi terdepak dari anggota LQ45 antara lain PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Medco Energi International Tbk (MEDC), PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), dab PT Indika Energy Tbk (INDY).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun masuknya sejumlah saham ke jajaran LQ45 dihitung BEI merujuk pada nilai perdagangan harian rata-rata satu tahun dan kapitalisasi pasar. Biasanya, penghapusan dari daftar LQ45 karena likuiditas perdagangan yang semakin menipis atau kinerjanya kurang baik.
 
Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan saham LQ45 memang masuk saham pilihan investor. Indeks LQ45 akan menghitung indeks rata-rata dari 45 saham yang memenuhi kapitalisasi pasar terbesar dan nilai likuiditasnya yang tinggi. Salah satunya saham emiten LPKR.
 
"Saham LPKR layak masuk ke LQ45 karena dari sisi fundamental dan aset perusahaan sangat kuat, dibanding dengan saham-saham properti lain. Kinerja bisnis juga solid. Secara fundamental LPKR memang menarik, cukup layak masuk ke LQ45. Harga saat ini berada di P/Sales ratio 0,61x dan memiliki free float 52,95 persen. Sehingga cukup murah dan likuid," ujar Lanjar, dalam keterangannya, Kamis, 23 Januari 2020.
 
Menurut data BEI, Lippo Karawaci merupakan salah satu perusahaan properti terbesar yang sahamnya tercatat di BEI dengan total aset USD4 miliar per September 2019 dan kapitalisasi pasar USD1,2 miliar per 31 Oktober 2019. Selain mengembangkan enam proyek properti yang sedang berjalan, perseroan mengelola 51 mal dengan gross floor area 3,4 juta m2, serta jaringan 36 RS yang difasilitasi 3.666 unit tempat tidur.
 
Lippo Karawaci memiliki cadangan lahan (landbank) yang terdiversifikasi dengan izin pengembangan lebih dari 8.000 ha. Lahan seluas 1.461 ha yang tersebar di Indonesia menyediakan keperluan pengembangan di kemudian hari untuk jangka waktu lebih dari 15 tahun.
 
Dengan fundamental yang kuat, Lanjar optimistis bisnis LPKR ke depan akan tetap cerah. Sektor properti akan tetap tumbuh, didukung kebijakan pemerintah juga kebijakan suku bunga yang relatif rendah. Dia menilai dalam jangka panjang ekonomi Indonesia juga akan terus tumbuh. Sejumlah sektor akan terdorong, salah satunya properti. Belum lagi proyek infrastruktur tetap berlanjut. Ini memberi sentimen positif.
 
"Secara bisnis, cukup cerah untuk perusahaan properti, termasuk LPKR, dilihat dari suku bunga yang rendah," ucapnya.
 
Di 2019 lalu, LPKR berhasil melakukan penjualan sebanyak Rp1,85 triliun. Realisasi penjualan tersebut lebih besar 23 persen dari target penjualan yang dicanangkan yaitu sebesar Rp1,5 triliun. Lebih fantastis lagi, penjualan LPKR di kuartal keempat sebesar Rp707 miliar naik sebesar 132,6 persen dari penjualan di kuartal kedua sebesar Rp304 miliar. Hal ini mencerminkan momentum bisnis LPKR yang makin menguat dan juga overall demand pembeli yang juga makin kuat.
 

 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif