NEWSTICKER
Uang pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. Foto: Antara/Risyal Hidayat
Uang pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. Foto: Antara/Risyal Hidayat

Wabah Korona Diprediksi Tak Hambat Gerak Rupiah

Ekonomi rupiah Virus Korona
Nia Deviyana • 06 Februari 2020 06:00
Jakarta: Nilai tukar rupiah diprediksi melanjutkan penguatan pada pembukaan perdagangan pagi ini, Kamis, 6 Februari 2020. Merebaknya virus korona diyakini tak akan menggoyahkan gerak mata uang Garuda itu.
 
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah pagi ini dapat menguat ke level Rp13.675-Rp13.750 per USD setelah ditutup menguat 25 poin menjadi Rp13.690 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 5 Februari 2020.
 
"Dalam penutupan pasar sore ini rupiah ditutup menguat. Sedangkan dalam perdagangan besok rupiah kemungkinan kembali menguat di level Rp13.675-Rp13.750 per USD," ujar melalui catatannya yang dikutip Medcom.id, Rabu, 5 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski Tiongkok sudah menyuntikkan sekitar 1,7 triliun yuan (USD243 miliar) ke dalam sistem keuangannya, wabah korona tetap perlu menjadi perhatian. Pasalnya, jumlah korban tewas di Tiongkok sudah mencapai 490 orang atau melebihi korban SARS. Sementara kasus yang terkonfirmasi juga naik menjadi 24.324.
 
"Ada pepatah mengatakan ketika Tiongkok bersin, dunia terkena flu. Namun, walaupun jumlah kematian meningkat, WHO menyatakan keyakinannya bahwa penyebaran virus dapat diatasi, karena menunjukkan 99 persen kasus ada di Tiongkok sejauh ini," jelas Ibrahim.
 
Dari sisi internal, kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia lewat penurunan suku bunga membuat perekonomian kian stabil. Memang realisasi pertumbuhan ekonomi 2019 hanya 5,02 persen, atau cukup jauh di bawah pencapaian tahun sebelumnya.
 
Namun angka tersebut jauh lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi di negara Asia lainnya. "Pencapaian 5,02 persen itu memang melambat kalau di lihat dari PDB tahun 2018 di 5,175 persen, namun di saat ekonomi global bergejolak akibat perang dagang dan Brexit, serta ketegangan ditimur tengah yang meningkat, mempertahankan PDB di 5,02 persen merupakan level yang cukup bagus dibandingkan negara asia lainnya," paparnya.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif