BEI Kaji Wacana Revisi <i>Auto Rejection</i>
Ilustrasi (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)
Jakarta: Bursa Efek Indonesia berencana mengkaji wacana revisi aturan auto rejection saham perusahaan-perusahaan yang baru melakukan listing di bursa. Hal itu siap dilakukan lanntaran kerap kali terjadi pemberhentian perdagangan sementara setelah saham-saham yang baru mencatatkan saham di BEI tersebut melonjak tajam.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo mengatakan bursa terus memantau saham-saham perusahaan yang baru melakukan listing. Tidak hanya itu, bursa juga bakal mengkaji aturan auto rejection sehingga pemberhentian perdagangan sementara pada saham-saham perusahaan Initial Public Offering (IPO) tidak sering terjadi.

"Kita melihat IPO-IPO ini kan harganya naiknya tinggi-tinggi ya. Kita melihat apakah itu perlu diatur atau tidak," kata Laksono, di Gedung BEI, Jakarta, Kamis, 22 November 2018

Laksono menuturkan sejauh ini bursa melihat adanya ketidakmerataan dalam pendistribusian saham-saham perusahaan yang baru IPO dan harga perdana yang ditawarkan pun didiskon dengan angka yang tidak masuk akal. Akhirnya pada saat listing perdana, sistem auto rejection atas atau pemberhentian perdagangan sementara sering terjadi.

"(Saham IPO memang diskon) Tapi kan kan antara 10-20 persen tidak normal lah. Tidak normal harga segitu. Distribusi tidak rapi. Saham hanya dimiliki beberapa orang," jelas dia.

Namun, Laksono menambahkan, jika distribusi telah merata dan pengembangan elektronik book building yang dilakukan otoritas pasar modal terimplementasi kemungkinan revisi aturan auto rejection tidak akan dilakukan.

"Kalau distribusinya sudah normal, mungkin tidak perlu," pungkas dia.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id