"Kami yakin, semester I tahun ini bisa beroperasi," kata Direktur Utama Semen Indonesia Rizkan Chandra, ditemui usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2016 Semen Indonesia di Hotel J.W. Marriot, Kuningan, Jakarta, Jumat 31 Maret 2017.
Memang, sebut Rizkan, polemik pabrik Rembang yang saat ini terjadi menjadikan operasional pabrik tertunda. Apalagi, perusahaan pelat merah di sektor semen ini masih menunggu Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Hasil kajian tersebut menentukan nasib pabrik Rembang.
Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM tahun 2014 telah disebutkan, bahwa lokasi pabrik Rembang tidak berada diatas sungai atau mata air. Rembang juga bukan merupakan wilayah bentang alam kars yang selama ini juga menjadi salah satu isu dalam protes sejumlah pihak.
"Dengan keadaan itu, polemik tersebut juga karena mispersepsi. Pabrik Rembang tidak berada di Pegunungan Kendeng seperti yang selama ini menjadi isu. Berdasarkan surat Kementerian ESDM, pabrik itu justru masuk ke wilayah Rembang bagian utara," jelas Rizkan.
Ketika digambarkan di peta, Rembang berada di utara Pulau Jawa. Wilayah itu juga sejajar dengan Madura yang akan menjadi wilayah kerja perseroan. Sedangkan wilayah pegunungan Kendeng berada di bawah Rembang.
"Jadi tidak ada strategi lain selain menunggu hasil kajian itu. Semua izin sudah kami peroleh, sehingga saya yakini akan berakhir baik," tukas Rizkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News