Ilustrasi. (FOTO: dok MI)
Ilustrasi. (FOTO: dok MI)

Blue Bird Siapkan Rp1,5 Triliun Beli Armada Baru

Ekonomi blue bird
23 Mei 2019 10:45
Jakarta: PT Blue Bird Tbk mengalokasikan Rp1,5 triliun sebagai belanja modal (capital expenditure) pada tahun ini, atau meningkat Rp300 miliar dari belanja modal tahun sebelumnya Rp1,2 triliun.
 
Direktur Keuangan Blue Bird Sandy Permadi mengungkapkan sebagian besar belanja modal itu akan dipakai untuk pengadaan dan peremajaan kendaraan baru di semua segmen bisnis transportasi yang dimiliki perusahaan.
 
"Belanja modal itu didapat dari pinjaman bank sebesar 80 persen dan 20 persen dari investasi internal," kata Sandy seusai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk pengadaan dan peremajaan armada, di kuartal I-2019 Blue Bird telah mengeluarkan dana sekitar Rp340 miliar.
 
Tak berhenti di situ, perusahaan transportasi berlogo burung biru tersebut juga akan melakukan ekspansi pada sektor nontaksi di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah, mengingat saat ini akses tol Trans Jawa telah tersambung.
 
"Kita baru saja mengakuisisi Cititrans yang melayani shuttle Jakarta-Bandung. Setelah Tol Trans Jawa tersambung, kita akan pertimbangkan juga untuk masuk area Jawa Tengah dan Jawa Timur," tandasnya.
 
Pada kesempatan yang sama, Sandy mengatakan perusahaannya berhasil mendapat laba bersih sebesar Rp457,3 miliar pada 2018 lalu.
 
Laba tersebut berhasil didapat di tengah makin kerasnya persaingan di industri jasa transportasi dengan kehadiran perusahaan transportasi daring.
 
Bukan cuma itu, perseroan juga mampu membukukan kenaikan pendapatan sebesar Rp14,9 miliar atau tumbuh 0,35 persen jika dibandingkan dengan di 2017. Total laba tahun berjalan tumbuh lebih solid sekitar Rp32,8 miliar atau naik 7,7 persen jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
 
"Pertumbuhan, baik pendapatan maupun total laba tahun berjalan di 2018, merupakan prestasi tersendiri bagi perseroan setelah menghadapi pertumbuhan negatif atas pendapatan dan total laba berjalan di 2016 dan 2017," kata Sandy.
 
Pertumbuhan negatif diakuinya sempat dialami perusahaannya lantaran tingkat kompetisi yang makin sengit antarperusahaan transportasi darat, terutama melawan perusahaan taksi daring. (Media Indonesia)
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif