Ilustrasi petani. Foto: dok MI/Abdus.
Ilustrasi petani. Foto: dok MI/Abdus.

Energi untuk Pahlawan Pangan Cilamaya

Ekonomi pertamina petani ketahanan energi
Annisa ayu artanti • 14 Oktober 2020 09:36
SEJAK 2 Maret 2020, Indonesia tersentak dengan masuknya kasus pertama covid-19. Dalam sekejap, virus tersebut mewabah dan menjadi pandemi.
 
Kondisi itu telah membuat sendi-sendi perekonomian di Tanah Air menjadi lemah, bahkan nyaris lumpuh. Sejumlah sektor perekonomian terjerembab, pertumbuhan pun terjun cukup dalam, bahkan Indonesia masuk ke dalam jurang resesi.
 
Kendati tersendat, ekonomi tetap harus berjalan. Kebutuhan "dapur" bagi masyarakat tetap harus ngebul. Termasuk kebutuhan terhadap energi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melihat kondisi tersebut, afiliasi subholding gas yakni PT Pertamina Gas (Pertagas) Operation West Java Area (OWJA) berupaya untuk memberikan energi agar perekonomian Tanah Air kembali berputar.
 
Pertagas memberi dukungan kepada para pejuang pangan alias petani yang tergabung dalam anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Saluyu dari Dusun Sarimulya, Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
 
Ibarat vaksin di tengah pandemi, Pertagas menjadi penangkal runtuhnya ketahanan pangan karena kondisi pandemi belum usai.

Tanam Padi Sehat

Ketua Gapoktan Saluyu Endang Sudrajat mengatakan dalam upaya menjaga ketahanan pangan Pertagas menawarkan program tanam padi sehat menggunakan pupuk organik dan mendorong petani-petani di Desa Cilamaya menjadi Priangan (Pertanian Ramah Lingkungan).
 
Program itu pun disambut baik oleh anggota Gapoktan Saluyu karena menjadi jalan keluar bagi permasalahan yang selama ini terjadi yaitu kurang suburnya lahan akibat penggunaan pupuk berbahan kimia.
 
"Kami kerja sama dengan Pertagas dan sangat terbantu dengan adanya tanam padi sehat," ungkapnya kepada Medcom.id, Rabu, 14 Oktober 2020.
 
Selain itu, penerapan program tersebut juga membuat padi tidak rentan diserang hama serta menurunkan ongkos produksi karena biaya pengadaan pupuk organik jauh lebih murah. Walhasil, padi yang dihasilkan tumbuh sehat dan cukup untuk menyumbang ketahanan pangan.
 
"Sebelum program padi sehat produksi 6-6,5 ton per hektare (ha), itu biayanya besar. Pakai pupuk kimia itu per hektare sekitar Rp9 juta. Biayanya pakai organik itu bisa kurang 30-40 persen," imbuhnya.

Dukung Petani Capai Kemandirian Pangan

Tak hanya itu, pada Hari Tani Nasional yang jatuh pada 24 September lalu, Pertagas kembali melakukan dukungan kepada para petani dengan memberikan 22 ton pupuk organik dan 250 botol pupuk organik cair melalui program CSR Saung Patra.
 
"Kami mengapresiasi petani dalam mendukung upaya pemerintah mencapai kemandirian pangan dan menjaga ketahanan pangan nasional. Saat ini profesi sebagai petani masih dipandang sebelah mata, padahal jasanya luar biasa," ungkap Head of Distrik Cilamaya Pertamina Gas Operation West Java Area Firman.
 
Manager Communication, Relation, dan CSR Pertagas Zainal Abidin berharap Gapoktan Saluyu bisa terus meningkatkan tanaman padi dengan metode dan program padi sehat dan menyelamatkan lingkungan di masa depan. Apalagi, kesehatan menjadi hal utama disaat pandemi seperti saat ini.
 
"Semoga para petani bisa mandiri dengan tanam ramah lingkungan ini," pungkas Zainal.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif