Pupuk Bersubsidi. Foto : MI.
Pupuk Bersubsidi. Foto : MI.

Petrokimia Gresik Siap Bersaing Tanpa Program Pupuk Subsidi

Ekonomi pupuk subsidi Petrokimia Gresik
Ilham wibowo • 13 Oktober 2020 16:28
Jakarta: Direktur Utama Petrokimia Gresik Dwi Satriyo Annurogo mengatakan bahwa pihaknya siap menghadapi kondisi baru yang tidak mengandalkan alokasi pupuk subsidi Pemerintah. Peningkatan daya saing produk telah diperkuat dengan transformasi proses bisnis yang lebih inovatif dan efisien.
 
"Kami siap apabila pupuk subsidi itu dilepas karena kami sudah punya peta lengkap, kami punya data yang real time terkait kebutuhan konsumen sehingga kami bisa memenuhinya," kata Dwi dalam MarkPlus Industry Roundtable: Agro Industry Perspective, Selasa, 13 Oktober 2020.
 
Petrokimia Gresik sebagai anggota holding Pupuk Indonesia mendapat mandat penyediaan pupuk subsidi Pemerintah seperti di Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 47/2018. Alokasi atau kewajiban penyaluran Petrokimia Gresik tercatat sebesar 5,24 juta ton dari 8,87 juta ton total pupuk subsidi 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski kelanjutan pupuk subsidi belum diputuskan secara resmi oleh Pemerintah, Dwi memastikan telah menyiapkan strategi khusus untuk meningkatkan kinerja usaha sebagai produsen pupuk. Pasar pupuk nonsubsidi dinilai bakal potensial dengan perubahan strategi dan adaptasi situasi agar terus berkembang.
 
"Perusahaan itu punya prospek bagus apabila tumbuh dan berkembang, nah ini kuncinya. Kalau perusahaan itu tidak tumbuh dan berkembang artinya perusahaan itu walaupun besar kapasitasnya walaupun tinggi nilai revenue-nya tapi perusahaan yang tidak tumbuh dan berkembang itu sebenarnya mengarah ke kematiannya," paparnya.
 
Saat ini, kata dia, pemanfaatan big data telah dilakukan untuk menekan ongkos produksi. Pemahaman dan mengolah data yang terintegrasi di tingkat hulu hingga hilir diperkuat agar menjadi senjata andalan menghadapi beragam tantangan.
 
"Contohnya di supply chain kami mengurangi biaya efisiensi dengan optimalisasi data-data yang ada. Kami bisa mengambil keputusan mana yang harus kami naikkan dan tambahkan misalnya bahan baku dan seterusnya," paparnya.
 
Selain itu, peningkatan tenaga kerja yang terampil dengan teknologi modern juga diperkuat dengan pelatihan secara virtual reality. Masa waktu pengenalan operasional mesin misalnya, durasinya bisa dipangkas menjadi lebih cepat.
 
"Karyawan baru yang tanpa pengalaman apa-apa perlu waktu dua atau satu tahun untuk bisa mengenal pabrik kami. Proses itu kami ubah dengan digital learning, kami punya Diklat yang secara virtual karyawan ini mengenal alat melalui simulasi nyata seperti pilot," pungkasnya.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif