Dilansir dari laman Kementerian Pariwisata pada Sabtu, 12 September 2026, Kemenpar mencatat devisa pariwisata Indonesia mencapai USD8,43 miliar atau sekitar Rp145,13 triliun pada Semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 2,88 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang berada di angka USD8,20 miliar atau sekitar Rp134,68 triliun.
Pertumbuhan tersebut datang bersamaan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, perjalanan wisatawan nusantara, hingga okupansi hotel.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 8,98 juta kunjungan. Angka tersebut tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan paling tinggi datang dari sejumlah pasar Asia. Kunjungan wisatawan dari Asia lainnya naik 8,69 persen, Asia Tenggara tumbuh 7,32 persen, sedangkan Oseania meningkat 7,26 persen. Pasar dari Timur Tengah juga kembali mencatat pertumbuhan seiring membaiknya situasi di kawasan tersebut.
Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengatakan capaian tersebut menjadi alasan untuk tetap optimistis meski kondisi global masih penuh ketidakpastian.
“Capaian ini tentu patut kita syukuri. Namun pada saat yang sama, situasi global masih sangat dinamis. Karena itu, Kementerian Pariwisata terus melakukan mitigasi, memperkuat strategi pasar, dan memastikan agar momentum pertumbuhan ini dapat terus dijaga hingga akhir tahun,” kata Menpar.
Wisata Domestik Ternyata Jauh Lebih Ramai
Bukan cuma wisatawan asing yang membuat roda pariwisata terus berputar. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 737,85 juta perjalanan atau tumbuh 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, perjalanan masyarakat Indonesia ke luar negeri justru mencapai 5,26 juta perjalanan dan turun 3,25 persen secara tahunan. Kondisi tersebut membuat Indonesia mencatat surplus perjalanan wisata sebesar 3,71 juta.
Aktivitas wisata juga ikut tercermin dari tingkat okupansi hotel. Pada Januari–Juli 2026, tingkat okupansi hotel mencapai 49,13 persen atau naik 2,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemerintah Tak Cuma Mengejar Jumlah Turis
Meski jumlah wisatawan menjadi salah satu indikator penting, pemerintah kini ingin pertumbuhan pariwisata menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar. Artinya, wisatawan diharapkan tidak sekadar datang, tetapi juga tinggal lebih lama, berbelanja, menggunakan jasa lokal, dan ikut menggerakkan usaha masyarakat.
“Bagi kami, angka ini penting. Karena pariwisata bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang mereka tinggalkan di Indonesia dan seberapa luas manfaatnya dirasakan masyarakat,” kata Widiyanti.
Gambaran kontribusinya terlihat dari Tourism Satellite Account BPS yang mencatat kontribusi langsung pariwisata terhadap PDB pada 2025 mencapai 4,78 persen atau sekitar Rp1,139 triliun. Angka tersebut meningkat dari sekitar Rp1,057 triliun pada 2024. (Wisa Irena Br Sitepu)