Menteri Koordinator  bidang Kemaritiman dan investasi Luhut Binsar Pandjaitan - - Foto: Antara/ Puspa Perwitasari
Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan investasi Luhut Binsar Pandjaitan - - Foto: Antara/ Puspa Perwitasari

Luhut: Indonesia Sumbang 50% Pasokan Nikel Global di 2025

Ekonomi Ekspor investasi kemenko maritim komoditas nikel Luhut Pandjaitan
Suci Sedya Utami • 18 Juni 2021 13:37
Jakarta: Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyebut Indonesia pada 2025 diproyeksikan memasok 50 persen nikel dunia.
 
Angka ini meningkat dibandingkan 2020 dengan posisi 28 persen. Dengan jumlah produksi sebanyak 21 juta ton per tahun, kata Luhut, Indonesia telah menjadi salah satu produsen nikel terbesar di dunia dalam bentuk Nickel Pig Iron (NPI).
 
"Produksi nikel Indonesia akan meningkat dengan adanya smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang akan mulai beroperasi pada 2021 yang akan menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate (MHP)," ujar Luhut dalam keterangan resmi, Jumat, 18 Juni 2021.
 
Menurut Luhut,  Indonesia memiliki potensi tawar (bargaining position) yang kuat di mata dunia sehingga bisa berkembang dan bekerja sama yang saling menguntungkan. Pemerintah pun telah mendorong investasi pada hilirisasi produk turunan nikel untuk memproduksi baterai listrik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita juga enggak boleh baik-baik amat. Kita harus memainkan peran kita," tutur Luhut.
 
Ia bilang beberapa kawasan industri mulai mengembangkan produk turunan nikel dan bauksit. Di antaranya kawasan Galang Batang dengan nilai total investasi sebesar USD2,5 miliar (target operasi 2021).
 
Kemudian kawasan industri Morowali Utara dengan nilai total investasi sebesar USD4,19 miliar (target operasi pada kuartal keempat 2021), dan kawasan industri Tanah Kuning dengan nilai total investasi yang akan dikucurkan secara bertahap sebesar USD60 miliar (target operasi 2022).
 
Selain kawasan-kawasan itu, nilai investasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Weda Bay Industrial Park yang masing-masing sebesar USD10 miliar. Dengan membangun kawasan industri yang terintegrasi, menurutnya ongkos produksi menjadi semakin murah.
 
"In the end, cost kita jadi sangat murah, otomatis harga jual nikel olahan kita jadi bersaing sehingga Tiongkok menerapkan kebijakan dumping ke Indonesia," pungkas Luhut.
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif