Stasiun MRT. Foto: Antara.
Stasiun MRT. Foto: Antara.

MRT Hadir Atasi Lalu Lintas dan Permukiman

Ekonomi Proyek MRT
Syah Sabur • 04 Juli 2020 20:11
Jakarta: Kehadiran Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta ternyata tidak hanya berguna untuk mengatasi masalah transportasi. Lahirnya MRT bisa sekaligus mengatasi masalah permukiman.
 
Hal itu tak terlepas dari langkah MRT mengembangkan konsep untuk penataan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD). Kawasan TOD pada dasarnya merupakan perpaduan fungsi transit manusia, kegiatan, bangunan, dan ruang publik yang bertujuan untuk mengoptimalkan akses transportasi publik.
 
Dengan demikian, mobilitas masyarakat semakin lancar karena pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum. Hal itulah yang terjadi di Singapura, Tokyo, Hong Kong, dan London.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Setiap stasiun-stasiun metro itu kepadatannya pasti tinggi di sekitar stasiun MRT. Ini yang ingin kita kembangkan dengan konsep TOD," jelas Dirut MRT Jakarta William Sabandar, dalam Forum Jurnalis Juli di Jakarta.
 
Dalam rancangan yang dipaparkan oleh William, PT MRT Jakarta sudah menyiapkan konsep untuk pengembangan TOD di kawasan sekitar stasiun layang MRT mulai dari Stasiun ASEAN hingga Stasiun Lebak Bulus, dan stasiun Fatmawati. Ketiga kawasan tersebut bakal dibuat menjadi kawasan TOD.
 
Stasiun tersebut juga bakal terhubung dengan Poins Square yang letaknya berdekatan dengan Stasiun Lebak Bulus. Interkoneksi yang dibangun bakal sejenis dengan yang sudah terbangun di Stasiun Blok M yang saat ini telah terhubung dengan Blok M Plaza.
 
William menjelaskan, hal itu tak lepas dari keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menetapkan PT MRT sebagai pengelola kawasan TOD di Febuari 2020. William mengatakan pihaknya saat ini sedang mengembangkan transit plaza di dekat Stasiun Lebak Bulus, di mana pengendara dan transportasi umum dapat dengan mudah menaikkan dan menurunkan penumpang.
 
Menurut William, Gubernur DKI Anies Baswedan menerbitkan izin pengelolaan usaha tiga kawasan tersebut dengan Peraturan Gubernur Nomor 55, 56, dan 57 Tahun 2020. Aturan tersebut menjadi panduan rancang kota sekitar stasiun yang akan dikelola PT MRT.

Menurunkan Kualitas Hidup

Konsep tersebut tak lepas dari kondisi Jakarta yang berkembang sangat pesat yang diisi lebih dari 18,6 juta kendaraan pribadi. Sebaliknya, pengguna angkutan umum di Ibu Kota baru mencapai angka 24 persen. Ada sekitar 47,5 juta pergerakan orang di Jabodetabek.
 
BPS DKI Jakarta pada 2015 mencatat setiap hari ada sekitar 1,4 juta pelaju dari daerah sekitar Ibu Kota. Kecenderungan perluasan di wilayah Jakarta-Bodetabek yang pesat dan kurang terkendali secara signifikan meningkatkan biaya transportasi, mengurangi tingkat mobilitas, dan menurunkan kualitas hidup.
 
Perluasan yang pesat dan tidak terkendali dari kota Jakarta dan Bodetabek tersebut sebagian besar berwujud permukiman berlantai rendah (hampir 64 persen total wilayah Jakarta) dan gedung-gedung berlantai rendah yang menyebabkan habisnya persediaan lahan di Jakarta. Sebagai dampak dari fenomena ini, Jakarta saat ini tidak memiliki cukup ruang untuk pembangunan di masa depan.
 
Membangun kota Jakarta secara ekstensif horizontal dengan hanya mengandalkan jaringan jalan raya dan kendaraan pribadi akan mengakibatkan kota berkembang semakin besar, tidak efisien, boros, dan tidak terkendali. Akibat terburuk adalah kelas menengah produktif semakin terpinggirkan ke luar kota sehingga menimbulkan ketimpangan sosial baik di dalam kota maupun di luar kota.
 
Selain itu, ruang terbuka semakin hilang dan infrastruktur kota tidak dapat mengejar kecepatan perluasan kota sehingga mengakibatkan pelayanan publik merosot jauh di bawah standar. Ironisnya, para penghuni dan pelaju terpaksa mengeluarkan biaya hidup yang semakin lama semakin tinggi tanpa disertai peningkatan layanan publik yang pantas.
 
William mengungkapkan, kini tiba saatnya Jakarta mengubah paradigma pembangunannya dengan tidak lagi berorientasi pada kendaraan pribadi khususnya mobil melainkan lebih berorientasi pada pejalan kaki dan kendaraan umum massal. Perubahan tersebut tidak hanya berhenti di penyediaan sistem transportasi massal yang memadai namun juga konsep pembangunan kota yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi penghuninya, termasuk pentaan kawasan, arus penumpang, dan integrasi antarmoda.
 
Menurut William, khusus untuk transit plaza tersebut sudah siap digunakan dan tinggal menunggu interkoneksi antara Stasiun Lebak Bulus dengan Poins Square. "Butuh waktu sekitar 5-6 bulan untuk membangun skybridge yang menghubungkan Poins Square dan Stasiun Lebak Bulus," ujarnya.

Kawasan Hijau

Pengerjaan transit plaza seluas 1.500 meter persegi tersebut dikerjakan oleh pihak pengembang pengelola Poins Square. Sedangkan proyek kawasan TOD tersebut bakal menjadi tanggung jawab PT Integrasi Transit Jakarta, anak usaha MRT. Ketiga kawasan akan disulap sesuai dengan karakter masing-masing daerah.
 
Dia menyebut kawasan Blok M ASEAN akan disulap dengan konsep kawasan hijau atau green creative hub. Sementara kawasan Fatmawati akan dibuat dengan konsep ruang atas dinamis.
"Ketiga kawasan Lebak Bulus, kita jadikan konsep gerbang terminus selatan jakarta," ujar William.
 
Setelah mengembangkan ketiga lokasi tersebut, PT MRT Jakarta akan melanjutkan pengembangan di kawasan stasiun-stasiun lain seperti Stasiun Fatmawati dan Stasiun Haji Nawi. Meski demikian, William mengakui bahwa untuk pengembangan TOD di kawasan sekitar stasiun MRT yang terletak di bawah tanah mulai dari Stasiun Istora hingga Stasiun Bundaran HI lebih sulit dibandingkan kawasan dengan stasiun layang. Alasannya, kawasan di sekitar stasiun bawah tanah MRT merupakan kawasan yang lebih berkembang dibandingkan stasiun-stasiun layang yang terletak di selatan Jakarta.
 
Untuk itu, William mengatakan sebagai langkah awal pihaknya sedang membangun kerja sama dengan pihak-pihak pemilik gedung di sekitar stasiun MRT bawah tanah untuk pembangunan interkoneksi. "Nantinya juga pasti ada pengembangan kawasan tapi masih sangat panjang karena konsolidasi lahan di daerah yang stasiunnya bawah tanah lebih kompleks," ujar William.
 
Oleh karena itu, William mencontohkan seperti di sekitar Stasiun Dukuh Atas pihaknya saat ini baru mengembangkan area publik seperti melakukan pedestrianisasi dan belum melakukan penataan atas ruang privat. Selain itu, pembangunan kawasan TOD juga bakal mengurangi satuan ruang parkir kendaraan pribadi. Dalam paparannya, William menjelaskan, area parkir yang hilang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bangunan TOD MRT Jakarta.
 
"Karena dengan adanya TOD kami berharap bahwa jumlah pengguna transportasi kendaraan pribadi akan semakin berkurang," kata dia saat konferensi pers virtual, Kamis, 2 Juli 2020.
 

(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif