Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry mengatakan singkong sudah jadi komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain permintaan tepung tapioka yang tinggi di masyarakat, jumlah industri makanan yang menggunakan bahan baku ketela pohon ini juga terus tumbuh.
"Seiring dengan meningkatnya jumlah industri makanan, otomatis permintaan tapioka juga meningkat, belum lagi permintaan tapioka untuk industri semacam farmasi, tekstil dan lainnya. Ke depan ubi kayu bisa menjadi komoditas strategis nasional," kata Fadjry melalui keterangan tertulisnya kepada Medcom.id, Senin, 13 Juli 2020.
Menurut Fadjry, produksi singkong di Tanah Air masih perlu terus dikembangkan. Permasalahan yang banyak dihadapi, produktivitas petani hanya mampu panen rata-ratanya hanya 20 ton per hektare (ha).
"Selain lahannya yang semakin menyusut, umur panen serta penggunaan varietas yang produktivitasnya rendah pun masih digunakan oleh petani," ujar Fadjry.
Ia memaparkan bahwa luas lahan panen ubi kayu pada 2018 hanya seluas 793 ribu ha, berkurang satu juta ha dari 2014. Penurunan lahan tanam itu pun perlu diantisipasi dengan penggunaan varietas unggulan hasil riset peneliti di Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
"Kementerian Pertanian telah melepas dua varietas ubi kayu produktivitas tinggi yaitu varietas Vati 1 dan Vati 2 yang dilepas 2018," ucapnya.
Singkong varietas Vati 1 memiliki keunggulan potensi panen hingga dua kali lipat atau 46,9 ton per ha dengan rata-rata 37,5 ton per ha. Umur panennya genjah, yaitu tujuh bulan umbi sudah mencapai sekitar 4,5 kg per tanaman.
"Varietas Vati 1 memiliki keistimewaan lainnya yaitu memiliki kadar bahan kering umbi 48,5 persen, kadar pati 21,9 persen, rendemen pati 26,7 persen, dan kadar gula total tertinggi 43,0 persen," paparnya.
Sementara varietas Vati 2, memiliki potensi hasil lebih tinggi yaitu 66,8 ton per ha dengan rata-rata potensi hasilnya 42,5 ton per ha. Akan tetapi varietas Vati 2 memiliki umur panjang dari varietas Vati 1 yaitu sekitar 9-10 bulan.
Fadjry menambahkan singkong memiliki keistimewaan sebagai penghasil pati yang lebih banyak dibandingkan dibandingkan tanaman lain. Selain industri makanan, singkong juga sangat dibutuhkan sebagai bahan baku industri farmasi, tekstil, dan beragam industri lainnya.
"Sehingga 2020 diperkirakan kebutuhan Indonesia terhadap tepung tapioka untuk industri mencapai 9-10 juta ton," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News