Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Dokumen Kementerian Keuangan
Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Dokumen Kementerian Keuangan

Situasi Global yang Dinamis buat Pemerintah Sulit

Antara • 02 Desember 2022 16:29
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan situasi ekonomi global saat ini berkembang sangat dinamis dan sulit hingga menciptakan tantangan besar bagi pembuat kebijakan, termasuk Indonesia.
 
“Saya pikir kita semua setuju situasi ekonomi global telah berkembang dengan sangat dinamis dan sangat sulit. Menciptakan tantangan besar bagi para pembuat kebijakan kita,” katanya dalam ASEAN+3 Economic Cooperation and Financial Stability Forum, dilansir Antara, Jumat, 2 Desember 2022.
 
Sri Mulyani mengatakan ekonomi kini semakin memburuk akibat inflasi tinggi dan respons dari sisi moneter hingga berpotensi terjadi resesi yang bahkan tantangan itu terjadi di saat pandemi covid-19 belum berakhir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Risiko global pun sekarang perlahan telah bergeser dari sebelumnya krisis kesehatan menuju ke berbagai guncangan ekonomi dan keuangan.
 
Baca juga: Bos IMF: Perlambatan Ekonomi Tiongkok Berisiko bagi Asia 

Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi global akan menurun dari enam persen pada 2021 menjadi hanya 3,2 persen pada 2022 dan semakin turun ke level 2,7 persen pada 2023.
 
Menurut mantan direktur Bank Dunia itu, revisi ke bawah secara terus-menerus dari prospek ekonomi global ini memberikan perlombaan nyata yang kini harus dihadapi oleh negara-negara besar termasuk negara berkembang.
 
Di sisi lain, kondisi diperparah dengan berbagai faktor pemicu seperti perang di Ukraina yang ternyata meningkatkan risiko dalam bentuk krisis pangan, energi, dan pupuk.
 
Perang tersebut telah menciptakan peningkatan inflasi yang terburuk dalam hampir 14 tahun bagi banyak negara maju hingga kemudian ditanggapi dengan pengetatan kebijakan moneter dan peningkatan suku bunga.
 
Langkah pengetatan kebijakan moneter dan peningkatan suku bunga menyebabkan tingginya capital outflow di banyak negara berkembang dan melemahnya mata uang.
 
“Tantangan utama jangka pendek bagi banyak negara adalah bagaimana kita harus mengatasi inflasi tanpa melemahkan perekonomian,” katanya.
 
Meski demikian, Sri Mulyani mencatat beberapa negara di Kawasan Asia-Pasifik masih memiliki kinerja yang baik seperti Filipina, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia sepanjang triwulan I hingga III-2022.
 
Ia mencontohkan, Indonesia bisa mempertahankan tingkat pertumbuhan di atas lima persen selama empat kuartal berturut-turut dengan kuartal terakhir yaitu kuartal III-2022 yang mencapai pemulihan ekonomi sebesar 5,7 persen.
 
Permintaan domestik yang kuat dibarengi dengan ekspor yang kuat terutama ditopang oleh harga komoditas telah memberikan kontribusi sangat signifikan terhadap kinerja tersebut.
 
“Pemulihan di banyak negara Asia Pasifik lainnya juga relatif kuat. Lingkungan seperti ini akan menjadi salah satu tugas paling menantang yang harus dihadapi pembuat kebijakan pada 2023,” jelasnya.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id
 
 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif