Ilustrasi. FOTO: MI/USMAN ISKANDAR
Ilustrasi. FOTO: MI/USMAN ISKANDAR

Industri Perhiasan Terganggu Akibat Covid-19

Ekonomi perhiasan
Ilham wibowo • 08 April 2020 08:38
Jakarta: Industri Kecil Menengah (IKM) di sektor perhiasan mengalami penurunan produksi karena pasar yang terganggu. Sejak Maret 2020, kegiatan ekspor produk perhiasan dari Indonesia berhenti total setelah negara tujuan memperketat karantina virus korona (covid-19).
 
"Beberapa komitmen pemesanan untuk pembeli dari Amerika Serikat dijadwalkan ulang pengirimannya hingga Juni, bahkan ada yang sampai September,” ujar Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih, melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 8 April 2020.
 
Selain pasar ekspor, masalah yang tak kalah sulit juga terjadi di pasar lokal lantaran penjualan mendekati nol. Hal ini disebabkan harga emas yang sangat tinggi hingga melampaui Rp800 ribu per gram. Beberapa pedagang emas pun sudah memilih untuk menutup tokonya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hingga saat ini, kata Gati, 50 persen karyawan di pabrikan industri perhiasan yang merupakan anggota Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) masih bekerja. Sementara sisanya diliburkan selama dua minggu sambil menunggu keadaan selanjutnya.
 
Adapun pabrik industri perhiasan yang masih beroperasi telah diimbau untuk menjalankan protokol kesehatan dengan memberikan jarak kerja minimum satu meter antara pekerja yang satu dengan pekerja yang lain. Selain itu, dilakukan pengecekan suhu tubuh setiap karyawan yang masuk ke pabrik.
 
Selain itu, karyawan juga wajib menggunakan masker di lingkungan pabrik. Makanan sehat dan vitamin untuk setiap karyawan yang masih mengerjakan proses produksi pun sesuatu yang rutinitas.
 
Menurut Gati, seluruh pelaku usaha mengharapkan agar kondisi pasar dan produktivitas industri perhiasan kembali normal seiring percepatan penanganan wabah. Program pengembangan, pendampingan tenaga ahli desainer, serta bantuan mesin dan peralatan di Unit Pelayanan Teknis (UPT) bisa kembali dilakukan.
 
“Harapannya tentu upaya tersebut dapat memberikan dampak positif, baik bagi pelaku industri perhiasan maupun masyarakat secara umum, melalui pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas," ucap Gati.
 
Adapun nilai ekspor perhiasan periode Januari-Agustus 2019 telah menembus hingga USD1,47 miliar, naik dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar USD1,3 miliar. Negara tujuan ekspor produk perhiasan nasional masih didominasi oleh Singapura, Swiss, Hong Kong, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Italia yang mencapai 97 persen dari total ekspor.

 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif