Dua lembaga tersebut yakni, Sinovac Biotech Ltd dari Tiongkok, dan The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).
"Bio Farma dari dua bulan lalu kita sudah bicara dengan CEPI, Menkes, BPPTS untuk coba melihat vaksin. Ini jangan jadi pressure, tapi kemungkinan di kuartal satu sampai kuartal empat 2021," kata Erick dalam silaturahmi virtual, Selasa, 26 Mei 2020.
Menurutnya masih butuh sekitar sembilan bulan lagi hingga vaksin tersebut ditemukan atau pada kuartal pertama tahun depan. Itulah mengapa protokol new normal diperlukan sebelum vaksin ditemukan.
Protokol tersebut dibuat sebagai guidance dalam melakukan aktivitas atau kegiatan sehubungan dengan rencana pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
"Anggap vaksin ditemukan Januari-Februari, masih sembilan bulan. Ini yang kenapa kita harus bicara new normal, harus ada protokol. Sebelum ada vaksin kita harus jaga, salah satunya dengan kesadaran diri," jelas Erick.
Dalam kesempatan sama, Teuku Adifitrian atau yang akrab disapa dokter Tompi menambahkan penemuan vaksin bukan sesuatu yang mudah. Ia bilang butuh waktu lama untuk menemukan, meneliti hingga digunakan secara massal.
"Kita enggak bisa ngomong tahun depan jadi. Israel buktinya sudah ngumumin bulan depan keluar tapi sampai sekarang belum juga. Jadi saya rasa jangan terlalu kepeden, ya meski ikhtiar tetap harus," kata Tompi.
Lebih lanjut, ia menekankan kesadaran diri masyarakat yakni dengan menggunakan masker, mencuci tangan dan menghindari keramaian."Saya mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan pemerintah. Kita enggak bis abergerak sendiri-sendiri. Kita masyarakat juga harus supportif, jangan menambah beban negara yang sudah pusing," imbau Tompi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News