Ilustrasi. Petani mencabut bibit padi yang siap tanam. (Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah)
Ilustrasi. Petani mencabut bibit padi yang siap tanam. (Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah)

Petani Sumenep Terapkan Inovasi Persemaian Kering Rusunawa

Ekonomi berita kementan
Gervin Nathaniel Purba • 21 Mei 2020 10:40
Sumenep: Intensitas hujan yang tidak menentu dan pandemi covid-19 yang masih berlangsung mengakibatkan mundurnya jadwal tanam pada musim tanam (MT) padi kedua, di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
 
Mengingat pola tanam padi di Kabupaten Sumenep sangat tergantung dari curah hujan yang ada, penyuluh dan petani setempat mengambil langkah dengan menerapkan inovasi persemaian kering rusunawa untuk mempercepat luas tambah tanam (LTT).
 
Hal ini dilakukan karena curah hujan saat ini tidak seperti tahun sebelumnya. Pada musim tanam akhir tahun lalu, intensitas curah hujan sangat kurang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penyuluh Pertanian di Kecamatan Kalianget Dewo Ringgih mengatakan, biasanya petani melakukan musim tanam kedua pada Maret. Namun, saat ini kondisi musim tanam mengalami kemunduran tanam.
 
Untuk mensiasati hal tersebut, Dewo memberikan penyuluhan bagaimana menerapkan persemaian kering Rumah Susun Pengganti Lahan Sawah atau disebut juga Rusunawa, agar masa tanam dapat dipercepat.
 
Persemaian kering bisa dilakukan di pekarangan rumah para petani. Inovasi ini pertama kali diterapkan oleh Hasanudin Petani, dari Kelompok Tani (Poktan) Sumber Tani Kecamatan Kalianget.
 
“Persemaian yang biasa dilakukan petani di lahan sawah minimal membutuhkan waktu kurang lebih 21 hari setelah sebar untuk bisa ditanam. Jika persemaian kering dilakukan di pekarangan, paling tidak bisa mempecepat masa tanam hingga 20 hari. Selain mempercepat masa tanam, keunggulan dari persemaian kering ini tidak membutuhkan biaya yang sangat banyak dibandingkan jika petani melakukan persemaian di sawah,” ujar Dewo, dikutip keterangan tertulis, Kamis, 21 Mei 2020.
 
Media yang digunakan untuk persemaian padi ini menggunakan tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 3:1. “Dengan komposisi tersebut, persemaian tidak lagi membutuhkan tambahan pupuk kimia”, ujarnya.
 
Inovasi yang dilakukan ini mendapat respon dan antusias dari para petani lainya. Selain mempecepat masa tanam, persemaian kering memudahkan petani untuk merawat bibit, sehingga kualitas bibit akan jauh lebih bagus jika dibandingkan bibit dengan persemaian dilahan sawah.
 
Semangat para petani dan penyuluh ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, agar harus bekerja lebih keras, lebih terpadu, dan lebih gotong royong supaya kebutuhan pangan rakyat bisa terjamin.
 
“Krisis pangan tidak boleh terjadi di Indonesia. Kita harus hadapi dengan kerja keras dengan semangat pantang menyerah. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh insan pertanian untuk menghadapi tantangan tersebut dengan dua langkah konkret, yaitu dengan penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat," kata Menta Syahrul
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif