"Kami prediksi tahun depan sudah tidak setinggi tahun ini lagi peningkatannya, jadi sudah mulai mereda. Bahkan ada peluang di paruh kedua 2022 bisa jadi sudah mulai melambat," kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal dalam video conference, Rabu, 29 Desember 2021.
Ia mengungkapkan, harga energi tahun ini mengalami kenaikan cukup tinggi karena adanya kenaikan permintaan namun tidak diiringi dengan ketersediaan pasokan yang memadai. Menurut dia, kenaikan permintaan ini terjadi karena sejumlah negara-negara maju seperti Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) yang mulai pulih.
"Hampir keseluruhan komoditas termasuk energi naik itu tidak lain adalah karena begitu pandemi itu sudah mulai surut setelah 2020, kemudian mulai naik. Tiongkok itu dia hanya kena kontraksi praktis hanya di kuartal I-2020, jadi dia duluan. Tiongkok adalah penyerap energi paling besar, dua terbesar di samping Amerika," ungkapnya.
Pada saat yang sama, pemasok komoditas energi yang mayoritas merupakan negara berkembang masih harus berjuang menghadapi pandemi covid-19. Namun apabila pengendalian pandemi bisa dilakukan secara efektif pada tahun depan, ia memperkirakan supply untuk komoditas energi ini sudah akan normal sehingga harga bisa turun.
Selain itu, ia mengatakan, kenaikan permintaan pasokan energi juga dipengaruhi oleh faktor musiman karena sejumlah negara di Eropa dan Amerika yang memasuki musim dingin. Ketika faktor seasonal ini sudah terlewati, maka permintaan komoditas energi juga tidak akan setinggi yang terjadi di tahun ini.
"Faktor yang lain adalah begitu pandemi sudah lebih bisa terkendali, negara-negara yang memproduksi energi termasuk negara berkembang yang akhir-akhir ini masih strugling sudah mulai bisa merespons itu, mulai bisa mengendalikan pandemi dan mulai merespons demand yang meningkat," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News