Ilustrasi bendera Indonesia - - Foto: dok AFP
Ilustrasi bendera Indonesia - - Foto: dok AFP

Indonesia Alternatif Investasi Nomor 1 di Asia, Ini Faktornya

Ekonomi Utang Luar Negeri kenaikan harga investasi komoditas Ekonomi Indonesia Investasi Asing Perang Rusia-Ukraina
Fetry Wuryasti • 25 April 2022 13:55
Jakarta: Indonesia dinilai menjadi negara alternatif investasi nomor satu di kawasan Asia setelah Saudi Arabia. Hal ini karena Indonesia bebas dari tekanan perang dan potensi gagal bayar utang.
 
Sebaliknya, Indonesia justru diuntungkan oleh dampak geopolitik dunia dengan kenaikan harga komoditas energi seperti batu bara, nikel, hingga minyak sawit.
 
"Yang mengesankan, Indonesia masuk dalam dua negara terbesar yang bebas dari tekanan perang setelah Saudi Arabia. Justru Indonesia malah diuntungkan dengan perang tersebut dengan meningkatnya produksi batu bara, nikel, dan CPO dalam negeri. Terlebih, Saudi Arabia yang merupakan penghasil minyak terbesar dunia," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Senin, 25 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari sisi perdagangan maupun investasi, Indonesia lebih dari aman terhadap tekanan perang tersebut. Di samping itu, Bank Dunia turut memproyeksikan 60 persen negara berpenghasilan rendah tengah kesulitan dan berisiko tinggi menghadapi krisis.
 
Sementara itu pasar saham negara berkembang, menunjukkan MSCI index negara berkembang mengalami penurunan sebesar -11,78 persen ke level 1,086 sepanjang 2022.
 
Adapun MSCI Indonesia tumbuh gemilang dengan imbal hasil 11 persen ke level 7,428. Hal tersebut mencerminkan bahwa posisi Indonesia yang cukup kuat dari tekanan global dan potensi krisis serta fundamental yang cukup tangguh di tengah potensi krisis negara-negara berkembang.
 
"Hal ini yang membuat pelaku pasar dan investor tertarik untuk berinvestasi di Indonesia, dan menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan alternatif nomor 1 di Asia," terang Nico.

Krisis di negara berkembang

Sejumlah risiko krisis bagi negara berkembang terutama negara berpenghasilan rendah, telah meningkatkan perhatian dunia terutama pembuat kebijakan dunia yang di mana membuat aktivitas ekonomi goyah dan menyebabkan kerusuhan.
 
Baru-baru ini, Bank Dunia telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,6 persen dari 6,1 persen pada 2021. Pemangkasan tersebut meliputi ekonomi negara maju dan berkembang. Ekonomi negara maju bahkan diproyeksi lebih rendah yakni sebesar 3,3 persen.
 
Sementara, negara berkembang sedikit lebih tinggi atau sebesar 3,8 persen. Sejak 2021, negara berkembang mencetak pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, yakni sebesar 6,8 persen, dari negara maju yang mencetak pertumbuhan lebih rendah yang sebesar 5,2 persen. Ini terjadi sebagai imbas lonjakan inflasi yang meningkat dan Agresi Militer Rusia ke Ukraina yang turut menyusahkan banyak negara.
 
"Meskipun proyeksinya lebih tinggi, namun yang dipertimbangkan adalah seberapa kuat negara berkembang menghadapi tantangan pembayaran utang. Lonjakan harga komoditas dan pangan akibat perang menjadi isu yang menekan neraca keuangan pemerintah," tambahnya.

 
Bloomberg Economic merilis nama negara yang memiliki utang yang meningkat dan lonjakan yield obligasi di mana berpotensi menaikkan risiko gagal bayar yakni Ghana, Pakistan, Tunisia, dan El Salvador.
 
Hal tersebut berpotensi menaikkan risiko adanya restrukturisasi utang negara. Sehingga, IMF mengeluarkan paket penyelamatan sebesar USD170 miliar, lebih besar dari bantuan covid-19 yang dikeluarkan untuk negara yang dilanda krisis sebelumnya.
 
Di tengah kasus gagal bayar yang melanda Sri Lanka, saat ini pemerintahnya tengah bernegosiasi dengan IMF untuk mendapatkan paket bantuan tersebut, meskipun masyarakat saat ini berunjuk rasa meminta Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, untuk turun dari jabatan.
 
Di samping itu, pengetatan moneter The Fed yang lebih agresif menyebabkan suku bunga The Fed yang lebih tinggi yang merupakan tolok ukur banyak negara berkembang. Sehingga, menaikkan biaya pinjaman dan juga menekan pasar surat utang hingga capital outflow. Tidak bisa juga disalahkan karena memang ekonomi AS yang terus bergeliat hingga membuat inflasinya melonjak.
 
Sesuai data yang dikeluarkan Bloomberg Economics atas peringkat negara-negara berkembang yang rentan terhadap tekanan perang. Turki dan Mesir menduduki posisi teratas di mana memiliki risiko terbesar dari sisi tekanan aliran modal, ekspor energi dan gandum.
 
Turki sangat tertekan dari sisi aliran modal, ekspor energi sebesar -0,9 persen terhadap GDP dan ekspor gandum sebesar -0,4 persen terhadap GDP. Sementara, Mesir menduduki posisi terbesar kedua dengan tekanan ekspor energi sebesar -0,9 persen terhadap GDP dan -1,6 persen terhadap GDP atas tekanan ekspor gandum.
 
Meski demikian, Polandia yang tertekan perang Rusia, dari sisi perdagangan dan investasi paling tinggi sebesar 3,45 persen terhadap GDP-nya. Sementara, Turki terimbas 2,68 persen dan Mesir hanya 1,12 persen. 

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif