Ilustrasi minyak goreng curah - - Foto: dok Metro Tv
Ilustrasi minyak goreng curah - - Foto: dok Metro Tv

Survei: Stok Minyak Goreng Cukup, Harga Masih Belum Terjangkau

Fetry Wuryasti • 16 Mei 2022 15:19
Jakarta: Hasil survei Lembaga Indikator Politik Indonesia menunjukkan stok minyak goreng nasional mencukupi tapi harga masih belum terjangkau oleh masyarakat.
 
Adapun tingkat kesulitan mendapatkan minyak goreng turun menjadi 56,4 persen pada periode survei 5-10 Mei, dibandingkan pada periode 20-25 April yang sebesar 74,9 persen, dan 19-19 April yang sebesar 83,7 persen responden yang mengaku sulit mendapatkan minyak goreng.
 
Dari 56,4 persen yang masih kesulitan mendapatkan minyak goreng mengatakan akibat harganya yang masih kurang terjangkau (64 persen), kemudian terkait ketersediaannya (34,3 persen).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terkait harga minyak goreng, sebanyak 53,8 persen responden mengatakan harganya kurang terjangkau, 19 persen mengatakan tidak terjangkau sama sekali, dan 23 persen merasa harganya terjangkau.

 
"Jadi tingkat kesulitannya menurun, tetapi dari sisi harga masih di luar keterjangkauan rakyat," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam webinar Drama Minyak Goreng dan Kepuasan Publik Terhadap Kinerja Presiden, dikutip Senin, 16 Mei 2022.
 
Survei dilakukan pada 5-10 Mei, beberapa hari setelah lebaran untuk memotret gambaran mutakhir, terutama setelah banyak keberatan dilakukan oleh pemerintah, apakah bisa mengembalikan approval rating yang sempat turun ataukah tidak.
 
Dari hasil survei, sebanyak 59,1 persen responden menjawab yakin dan 9,6 persen sangat yakin bahwa jaksa agung akan menuntaskan kasus korupsi pemberian fasilitas ekspor minyak goreng.
 
Responden pun cukup percaya (52,9 persen) hakim akan menjatuhkan secara adil dalam kasus korupsi minyak goreng. Sebanyak 58,9 responden juga memberi dukungan atas sikap Presiden Jokowi yang mendukung kejaksaan agung untuk membongkar dan mengusut mafia minyak goreng.

 
Survei ini bukan hanya terkait isu mengenai minyak goreng atau approval rating, tetapi juga isu lain, termasuk isu pandemi, mudik, dan Lebaran. Survei dilakukan melalui telepon dengan 1.228 responden secara acak.
 
Dari hasil survei tersebut, secara umum sebanyak 31,4 persen responden melihat kondisi ekonomi nasional berada dalam posisi sedang, 30,3 persen dalam posisi baik-sangat baik, dan 36,9 persen menilai ekonomi nasional dalam posisi buruk-sangat buruk.
 
Pada penegakan hukum, hasil survei menunjukkan dalam kondisi baik sangat baik sebesar 29,1 persen, dalam kondisi sedang 34,6 persen, dan dalam kondisi buruk sangat buruk sebesar 27,8 persen.
 
Pada hasil survei terkait kepuasan akan kinerja presiden, sebesar 50,1 persen mengatakan cukup puas, 8 persen mengatakan sangat puas, 29,1 persen mengatakan kurang puas dan tidak puas sama sekali sebanyak 6,1 persen.
 
Kepuasan tertinggi ada pada keberhasilan membangun infrastruktur jalan, jembatan, bendungan dll (27,7 persen), memberi bantuan kepada rakyat kecil (12,7 persen), penanggulangan pandemi covid-19 (7,9 persen).
 
Sedangkan alasan ketidakpuasan responden terhadap kinerja presiden yaitu karena harga-harga kebutuhan pokok meningkat (28,9 persen), bantuan tidak merata (10,7 persen), lapangan kerja/ pengangguran (8,4 persen), dan gagal menangani mafia minyak goreng (7,4 persen).
 
"Tiga teratas ada pada isu minyak goreng," kata Burhanuddin.
 
Dari hasil survei, sebanyak 75,4 persen responden menjawab memakai minyak goreng kemasan, kemudian 20,7 persen mengaku memakai minyak goreng curah. Mereka mendapatkan minyak goreng untuk kebutuhan sehari-hari dari warung sekitar tempat tinggal (47,1 persen), minimarket (30,8 persen), dan pasar basah/ tradisional (13,7 persen).

 
Rata-rata harga per liter yang mereka beli yaitu pada kisaran Rp25 ribu-Rp29 ribu per liter (32,5 persen) untuk minyak goreng kemasan, dan 10,2 persen untuk minyak goreng curah. Lalu pada harga Rp20 ribu-Rp24.999 sebanyak 26 persen untuk minyak goreng kemasan dan 30,7 persen untuk minyak goreng curah.
 
Terkait bantuan langsung tunai minyak goreng, 54,9 persen mengetahui kebijakan tersebut, dan 60,7 persen setuju dengan kebijakan tersebut. Tetapi baru 36,3 persen yang mengaku menerima BLT minyak goreng. Banyak yang tahu, tetapi tidak menerimanya.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif