Managing Director Southeast Asia and Korea IHG, Vivek Bhalla, mengungkapkan bahwa sekitar 40-50 persen perjalanan wisatawan internasional ke Indonesia masih mengarah ke Bali. Bahkan, lebih dari 50 persen penerimaan pariwisata Indonesia disebut masih dihasilkan dari destinasi tersebut.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan pentingnya perubahan strategi pengembangan pariwisata Indonesia. Pemerintah dan pelaku industri perlu mulai membangun ekosistem pariwisata yang tidak hanya bertumpu pada satu destinasi utama, tetapi juga melibatkan berbagai daerah potensial lainnya.
"Menurut saya, peluang jangka panjang Indonesia adalah beralih dari pendekatan pariwisata yang berpusat pada Bali menuju ekosistem pariwisata dengan banyak destinasi," ujar Vivek dalam IHG Hotels & Resorts Media Gathering: Supporting Indonesia’s Next Chapter of Tourism Growth di Jakarta, Rabu, 4 November 2026.
Ia menilai pengembangan destinasi lain dapat membuka peluang bagi wisatawan untuk mengenal lebih banyak kekayaan alam dan budaya Indonesia. Selain itu, penyebaran tujuan wisata juga berpotensi memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat di berbagai daerah.
Infrastruktur dan Konektivitas Jadi Tantangan
Untuk mewujudkan pengembangan pariwisata yang lebih merata, Vivek menilai Indonesia perlu memperkuat sejumlah aspek pendukung. Di antaranya investasi infrastruktur, konektivitas penerbangan, serta pemasaran destinasi wisata.
Kemudahan akses menjadi salah satu faktor penting agar wisatawan domestik maupun mancanegara tertarik mengunjungi daerah di luar destinasi yang selama ini populer. Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan destinasi prioritas seperti Labuan Bajo, Yogyakarta, dan Lombok agar mampu tumbuh berdampingan dengan Bali.
Menurut Vivek, pengembangan tersebut tidak hanya memberikan peluang bagi perusahaan perhotelan untuk memperluas bisnis, tetapi juga dapat memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada wisatawan.
"Hal ini juga memberikan kesempatan untuk merayakan kekayaan budaya dan warisan Indonesia, sekaligus menawarkan pengalaman lokal yang autentik kepada para tamu. Pengalaman tersebut juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat, mendukung pelestarian budaya, dan menciptakan peluang bagi pelaku usaha lokal," jelasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan strategi IHG yang mulai memperluas kehadirannya di sejumlah destinasi Indonesia. Saat ini, perusahaan perhotelan global tersebut mengoperasikan 35 hotel di 11 destinasi dengan delapan merek berbeda.
IHG juga memiliki 13 hotel dalam pipeline yang direncanakan hadir dalam beberapa tahun mendatang. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menangkap peluang pertumbuhan pariwisata di berbagai wilayah Indonesia.
Destinasi Sekunder Mulai Dilirik Wisatawan
Selain pengembangan infrastruktur, perubahan minat wisatawan juga dinilai membuka peluang bagi destinasi di luar Bali dan Jakarta.
Vivek menjelaskan wisatawan kini mulai menunjukkan ketertarikan terhadap destinasi sekunder atau tier 2 destinations. Daerah-daerah tersebut menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari eksplorasi budaya lokal hingga suasana yang lebih dekat dengan alam dan kehidupan masyarakat setempat.
Sejumlah wilayah seperti Lombok, Labuan Bajo, Manado, dan Lampung mulai mendapatkan perhatian lebih besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan pariwisata Indonesia tidak hanya berada di kota-kota yang selama ini menjadi tujuan utama wisatawan.
IHG sendiri menerapkan pendekatan pengembangan berdasarkan kelompok destinasi atau cluster destination-led approach. Strategi ini dilakukan untuk membangun skala bisnis sekaligus memperkuat kehadiran perusahaan di berbagai wilayah.
Di Indonesia, Jakarta masih menjadi salah satu pintu masuk utama bagi perjalanan bisnis, pemerintahan, dan wisatawan internasional. Sementara itu, Bali tetap menjadi salah satu pasar terkuat pariwisata.
Dalam kesempatan tersebut, Vivek juga menegaskan bahwa prospek pariwisata Indonesia masih sangat menjanjikan. Dukungan pemerintah terhadap sektor pariwisata, peningkatan infrastruktur, serta berkembangnya minat wisatawan terhadap destinasi baru dinilai dapat mempercepat pertumbuhan industri tersebut.
"Saya pikir peluangnya sangat besar bagi Indonesia. Seiring semakin banyak destinasi yang terbuka, didukung pemasaran dan dukungan pemerintah terhadap pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun internasional akan terus meningkat," ungkapnya.
(Wisa Irena Br Sitepu)