Ilustrasi listrik PLN - - Foto: MI/ Mohammad Irfan
Ilustrasi listrik PLN - - Foto: MI/ Mohammad Irfan

PLN Madiun Bidik 69 Ribu Ha Sawah untuk Dilistriki

Ekonomi listrik PLN lahan pertanian
Suci Sedya Utami • 04 September 2020 16:24
Jakarta: PT PLN (Persero) mendorong penggunaan listrik di sektor pertanian sebagai upaya memperluas jangkauan pemasaran. Hal ini demi mendorong peningkatan produktivitas di sektor pertanian.

PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madiun mengatakan aliran listrik telah masuk ke sektor pertanian sejak 2018. Dukungan kelistrikan yang diberikan PLN UP3 Madiun tersebut dengan menghadirkan layanan electrifying agriculture berupa penggunaan pompa listrik sebagai pengganti penggunaan pompa diesel untuk pengairan.
 
Manager PLN UP3 Madiun Daniel Lestanto mengatakan Madiun memiliki hamparan sawah seluas 104 ribu hektare (ha). Dari luasan tersebut, 33 persennya telah dialiri oleh listrik PLN untuk kepentingan irigasi.
 
"Artinya masih ada 69 ribu ha sawah yang masih menggunakan diesel," kata Daniel dalam webinar listrik dan produktivitas usaha tani, Jumat, 4 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Secara akumulatif hingga Agustus ini, terdapat kurang lebih 29.398 pelanggan di wilayah UP3 Madiun untuk pertanian dengan luas pertanian yang teraliri mencapai 36.501 hektar dan diperkirakan masih akan bertambah. Ia bilang daya listrik yang dialirkan mencapai 127 mega volt ampere (MWA) atau setara dengan dua trafo.
 
"Khusus di 2020 memang kami cukup tinggi meski di Mei Juni ada penurunan karena covid. Tapi ini cukup bagus, animonya cukup besar, kami butuh dukungan untuk bisa menjangkau hampir 70 ribu ha yang jadi sasaran kita," tutur dia.
 
Daniel menambahkan penggunaan listrik di sektor pertanian memberikan benefit bagi petani di antaranya peningkatan frekuensi panen dari 1-2 kali menjadi tiga kali setahun. Kemudian penghematan biaya operasional hingga 60 persen.
 
Misalnya ketika menggunakan diesel atau BBM biaya yang dikeluarkan per jamnya untuk membeli bensin sebesar Rp30 ribu, dan dengan listrik biayanya turun jadi Rp11 ribu-Rp12 ribu per jam.
 
Disisi lain, jika menggunakan listrik prabayar maka petani akan rugi lantaran harus dikenakan biaya beban. Padahal kebutuhan listrik bagi petani bersifat musiman yaitu siklus menanam, panen, lalu lahan sawah setelah panen harus disterilisasi hingga masa tanam berikutnya.

 
"Dengan demikian kesejahteraan petani meningkat, dan terhindar dari biaya minimum," jelas Daniel.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif