Bawang merah. (Foto: Antara/Asep Fathulrahman)
Bawang merah. (Foto: Antara/Asep Fathulrahman)

Kementan Sebut Distribusi Bawang Merah Belum Merata

Ekonomi berita kementan
Gervin Nathaniel Purba • 13 Mei 2020 13:46
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) selalu siaga memantau ketersediaan komoditas hortikultura strategis termasuk bawang merah. Produksi bawang merah secara nasional diprediksi masih lebih tinggi dari kebutuhan.
 
"Artinya, secara kumulatif bawang merah masih surplus. Namun harus diakui, distribusinya memang masih belum merata. Ini tugas kolektif bersama," ujar Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto, dalam keterangan tertulis, Rabu, 13 Mei 2020.
 
Terkait ketersediaan produk hortikultura saat pandemi covid-19, Anton, sapaannya, menyatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami telah siapkan strategi tanggap darurat covid-19, antara lain fasilitasi pemasaran produk hortikultura bagi petani terdampak covid-19, sewa gudang untuk mengatasi kelebihan hasil produksi petani hortikultura, bantuan penyediaan bahan pangan hortikultura untuk masyarakat terdampak covid-19, dan bantuan benih hortikultura bagi petani terdampak covid-19,” ujar Anton.
 
Berdasarkan data Early Warning System (EWS) bawang merah yang disesuaikan hitungannya berdasarkan produksi rogol kering askip, prediksi Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura pada Mei-Agustus 2020 terdapat produksi sebanyak 348.343 ton, sedangkan kebutuhan sebesar 342.598 ton, sehingga surplus sebesar 5.745 ton.
 
Adapun luas pertanaman bawang merah secara nasional selama periode Januari-Mei 2020 tercatat seluas 74.083 hektare (ha) dengan rincian Januari seluas 17.472 ha, Februari seluas 14.739 ha, Maret seluas 14.278 ha, April seluas 14.088 ha, dan Mei seluas 13.506 ha.
 
Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura Kementan Sukarman memastikan neraca kumulatif bawang merah nasional masih terbilang aman.
 
“Dari data Early Warning System (EWS) yang sudah kami petakan, neraca kumulatif nasional bawang merah masih surplus meskipun memang masih banyak daerah yang minus. Kawasan produksi bawang merah dalam skala besar memang belum merata di seluruh provinsi," kata Sukarman.
 
Untuk itu, Sukarman mengimbau daerah yang diperkirakan minus untuk melakukan gerakan tanam untuk mengurangi defisit dan ketergantungan. "Jangan selalu bergantung pasokan dari wilayah lain,” kata dia.
 
Sebanyak 18 sentra bawang merah pemasok Jabodetabek, meliputi Bandung, Garut, Cirebon, Majalengka, Grobogan, Pati, Demak, Temanggung, Brebes, Kulonprogo, Malang, Probolinggo, Nganjuk, Pamekasan, Lombok Timur, Bima, Solok, dan Enrekang diperkirakan jumlah produksinya pada Mei-Juni 2020 mencapai 125.363 ton (rogol kering askip), dengan luas panen sekitar 15.014 ha.
 
Hasil produksi tersebut diprediksi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di 18 sentra sebesar 16.344 ton dan masyarakat Jabodetabek sebesar 20.357 ton, serta masih terdapat neraca surplus sebesar 88.662 ton
 
Tenaga kontrak di Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Miftah mengungkapkan, bahwa harga bawang merah di tingkat petani saat ini cukup bagus, tetapi produktivitasnya cenderung rendah.
 
“Harga bawang merah lagi bagus pak. Tapi sayang rata-rata produksinya menurun karena hama dan penyakit," katanya yang juga sebagai petani bawang merah.
 
Menurut Miftah, harga bawang merah di tingkat petani untuk kualitas super bisa mencapai Rp35 ribu per kg. Sementara yang berukuran kecil hingga sedang Rp20 ribu per kg.
 
Dari catatannya, setidaknya terdapat 219 ha lahan bawang merah yang siap dipanen pada Mei ini. "Kalau se- Kabupaten Grobogan dalam setahun bisa mencapai lebih dari seribu ha," tutur Miftah.
 
Berdasarkan pantauan Petugas Informasi Pasar Ditjen Hortikultura pada 10 Mei, harga bawang merah di tingkat petani terendah tercatat Rp21 ribu per kg di Kabupaten Malang. Sedangkan harga tertinggi mencapai Rp45 ribu per kg di Kabupaten Agam.
 
Harga di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ) terpantau Rp41 ribu per kg. Sementara harga rata-rata di tingkat pasar retail menembus Rp51 ribu per kg. Harga di PIKJ terpantau mulai meningkat sejak minggu kedua April, dengan harga rata-rata lebih dari Rp35 ribu per kg.
 
“Beberapa hari ini pasokan yang masuk PIKJ memang turun terus dibanding minggu lalu. Stok bawang merah yang ada hari ini grade premium atau super. Kalau yang medium masih Rp38 ribu. Tapi memang barangnya masih sedikit,” ujar Syarif, salah satu pedagang bawang merah di PIKJ.
 
Menurutnya, banyak pedagang besar yang memiliki stok bawang medium mengambil kesempatan untuk menjual dengan harga premium, sehingga harganya naik lebih tinggi Rp5 ribu per kg.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif