Ilustrasi belanja online - - Foto: Medcom
Ilustrasi belanja online - - Foto: Medcom

Gerai Ritel Perlu Tingkatkan Kenyamanan Belanja Online

Ekonomi belanja online ritel
Ilham wibowo • 09 Juni 2020 22:23
Jakarta: Founder and Chairman MarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya menilai gerai ritel modern perlu meningkatkan kenyamanan dalam berbelanja secara daring. Pasalnya, masyarakat sudah terbiasa membeli kebutuhan serba online dan delivery (pesan antar).

"Ini strategi baru buat perusahaan-perusahaan. Menggabungkan offline dan online, atau OMNI. Digital transformation penting, tapi human experience tidak kalah penting," kata Hermawan dalam webinar bertajuk MarkPlus Industry Roundtable Retail Industry Perspective, Selasa, 9 Juni 2020.
 
Perubahan kebiasaan konsumen juga dirasakan oleh gerai restoran di pusat perbelanjaan. Misalnya Boga Group sebelum pandemi hanya melayani makan di tempat atau dine in.
 
Kini mengubah strategi dengan melayani delivery dan menyediakan frozen food. Boga pun membuka 22 restoran khusus di luar mal di Jakarta, Surabaya, Semarang, sampai Medan demi bertahan dari dampak pandemi covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sejak Maret pengunjung mal turun drastis sampai akhirnya ditutup. Sekarang sekitar 98 persen bisnis kami delivery, dua persennya dine in karena ada di kota-kota yang tidak menerapkan PSBB ketat seperti Samarinda dan Jogjakarta," ungkap Direktur Boga Group Kusnadi Rahardja.
 
Dengan bergesernya kebiasaan konsumen, kata Kusnadi, ia memprediksi porsi delivery akan masih tetap tinggi meski pusat perbelanjaan kembali dibuka.
 
"Saya prediksi 60 persen bisnis kami masih akan ada di dine in pasca covid-19. Namun porsi delivery akan menjadi 40 persen karena sudah terbiasa ketika PSBB," sambungnya.
 
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan menambahkan mal tidak akan langsung pulih meski PSBB dilonggarkan. Hal ini disebabkan oleh rasa khawatir masyarakat terhadap penyebaran covid-19 masih tinggi.
 
"Mungkin kondisi seperti ini akan berjalan setahun sampai satu setengah tahun. Pengalaman di Tiongkok pun pertumbuhan mulai dari 10 persen, lalu merangkak naik pelan-pelan," kata Stefanus.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif