Penjajakan tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) untuk melakukan studi bersama dengan holding JSC Ruschem pada rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada Kamis, 3 September 2026.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan kerja sama tersebut menjadi salah satu opsi jangka panjang perusahaan untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global.
“Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global,” kata Rahmad dalam keterangan resmi, Sabtu, 5 September 2026,
Menurut Rahmad, langkah tersebut juga sejalan dengan arahan Danantara agar Pupuk Indonesia ikut memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memperluas perannya dalam industri pupuk global.
Baca Juga :
7 Tokoh Inspiratif Raih Svarna Bhumi Award 2026, Buktikan Kekuatan Inovasi Pangan Nusantara
Pupuk Indonesia Incar Akses Produksi Amonia-Urea di Rusia
Proyek yang menjadi objek kajian adalah Nakhodka Fertilizer Plant (NFP), kompleks industri berskala global yang dikembangkan JSC Ruschem di kawasan Primorsky Krai, Rusia Timur. Fasilitas tersebut direncanakan memproduksi sekitar 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, dan 3,5 juta ton urea setiap tahun, dengan target mulai beroperasi secara komersial sekitar 2030.Bagi Pupuk Indonesia, proyek berbasis gas alam tersebut memiliki keterkaitan dengan pengalaman perusahaan dalam mengolah gas untuk memproduksi amonia dan urea. Rahmad mengatakan karakteristik tersebut menjadi salah satu modal bagi Pupuk Indonesia dalam mengkaji peluang kerja sama pengembangan Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 (NFP-2).
Selain kapasitas produksinya, lokasi proyek menjadi salah satu pertimbangan strategis Pupuk Indonesia. Primorsky Krai berada di kawasan Rusia Timur dan memiliki akses ke Pelabuhan Vladivostok yang menghadap Samudera Pasifik, sehingga berpotensi membuka jalur yang lebih luas menuju pasar Asia-Pasifik.
“Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia,” ujar Rahmad.
Akses tersebut dinilai dapat mendukung upaya perusahaan memperluas positioning terhadap aset dan rantai pasok global sekaligus meningkatkan resiliensi pasokan pupuk.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyebut penjajakan ini merupakan tindak lanjut konkret dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian EEF ke-11. Menurut Rosan, peluang tersebut dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan bahan baku dan industri nasional.
“Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia,” kata Rosan. (Wisa Irena Br Sitepu)