Jakarta: Perusahaan manufaktur di Indonesia semakin gencar mengadopsi teknologi digital guna memperlancar proses ekspor dan impor di tengah meningkatnya kompleksitas rantai pasok global serta tuntutan kepatuhan terhadap regulasi kepabeanan.
Digitalisasi kini tidak lagi hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga menjadi solusi untuk mengelola arus barang, inventori, hingga pelaporan kepabeanan secara lebih cepat dan akurat. Dengan sistem yang terintegrasi, perusahaan dapat meminimalkan kesalahan administrasi sekaligus mempercepat proses logistik lintas negara.
Tren tersebut sejalan dengan meningkatnya investasi global di bidang transformasi digital. Laporan Worldwide Digital Transformation Spending Guide dari International Data Corporation (IDC) memperkirakan belanja dunia untuk transformasi digital akan mencapai US$3,9 triliun pada 2027. Di Indonesia, daya saing digital juga terus membaik. Data East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 mencatat skor nasional meningkat dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026, mencerminkan semakin luasnya adopsi teknologi di dunia usaha.
Salah satu implementasi transformasi digital dilakukan PT Mattel Indonesia melalui kerja sama dengan PT Eka Reka Palakerti Indonesia (ERP Indonesia). Perusahaan mengimplementasikan BZone, platform Bonded Zone IT Inventory, untuk mengintegrasikan pengelolaan kawasan berikat, inventori, logistik, hingga pelaporan kepabeanan dalam satu sistem.
Melalui platform tersebut, proses ekspor dan impor dapat dipantau secara real-time sehingga membantu meningkatkan akurasi data, mempercepat arus barang, sekaligus memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melalui integrasi dengan sistem CEISA 4.0.
Chief Executive Officer PT Eka Reka Palakerti Indonesia, Anang Ind Pratama, mengatakan kebutuhan industri manufaktur saat ini telah berkembang jauh melampaui digitalisasi proses bisnis semata.
"Perusahaan manufaktur, khususnya yang memanfaatkan fasilitas kawasan berikat, membutuhkan sistem yang mampu menghubungkan proses operasional dengan kewajiban kepabeanan. Dengan otomatisasi dan integrasi bersama sistem pemerintah, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kepatuhan terhadap regulasi," ujarnya.
Menurut Anang, perubahan sistem pengawasan kepabeanan yang semakin terdigitalisasi membuat perusahaan harus memiliki platform yang mampu menyajikan data secara akurat dan real-time.
Ia menilai kepatuhan kini menjadi bagian penting dari strategi bisnis, bukan sekadar kewajiban administratif. Ketidaksesuaian data maupun keterlambatan pelaporan dapat menghambat proses ekspor-impor, memperlambat distribusi barang, hingga mengganggu operasional perusahaan.
"Implementasi BZone di Mattel Indonesia menunjukkan bahwa solusi teknologi yang dikembangkan di Indonesia mampu memenuhi standar operasional dan kepatuhan yang dibutuhkan perusahaan manufaktur global," katanya.
Chief Commercial Officer PT Eka Reka Palakerti Indonesia, Contardo Satria Gondokusumo, menambahkan implementasi di Mattel Indonesia menjadi salah satu pencapaian penting dalam pengembangan solusi digital untuk sektor manufaktur berorientasi ekspor.
Menurutnya, pengalaman lebih dari delapan tahun mendampingi transformasi digital berbagai perusahaan manufaktur memungkinkan ERP Indonesia menghadirkan sistem yang fleksibel mengikuti perkembangan regulasi sekaligus mampu menangani proses bisnis yang kompleks.
Ia menjelaskan, implementasi di Mattel Indonesia dilakukan secara bertahap mengingat tingginya volume transaksi ekspor-impor dan kebutuhan integrasi berbagai proses logistik tanpa mengganggu aktivitas operasional yang sedang berjalan.
Ke depan, ERP Indonesia akan terus mengembangkan platform BZone agar mampu membantu semakin banyak perusahaan manufaktur mempercepat digitalisasi, menyederhanakan proses ekspor dan impor, serta meningkatkan daya saing industri Indonesia di pasar global.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan